## Senyum yang Menghilang di Balik Hujan Hujan di Jakarta selalu membawa aroma kopi yang dipesan secara *online* dan kenangan tentangnya. Dulu, setiap tetes yang jatuh seperti notifikasi cinta; obrolan panjang, stiker beruang yang memeluk erat, dan janji untuk menonton film di apartemen minimalisnya. Sekarang, hujan hanya membangkitkan **rindu yang membakar** seperti sisa kopi pahit di dasar cangkir. Namanya, Arion. Seorang *programmer* dengan mata setajam laser dan senyum yang bisa meruntuhkan algoritma hatiku. Kami bertemu di forum penggemar novel fantasi, saling bertukar *fan fiction* hingga akhirnya bertukar nomor. Cinta kami tumbuh di balik layar, disiram pupuk *meme* lucu dan video kucing. Namun, seperti *bug* dalam kode, sesuatu mulai *error*. Arion mulai menghilang. Balasannya semakin singkat, alasannya semakin aneh. Dulu, dia selalu ada, *online*, menungguku. Sekarang, dia seperti hantu; ada namun tak tersentuh, hadir namun tak menyapa. Aku menyelami jejak digitalnya, mencari petunjuk di linimasa media sosialnya. Semuanya tampak normal. Terlalu normal. Seperti *interface* yang sengaja dipoles untuk menutupi kerusakan di dalam. Aku mulai merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Sebuah rahasia. Hujan semakin deras. Aku menatap layar ponselku, membaca ulang *chat* terakhir kami. Kata-katanya terasa hambar, seperti *emoticon* tanpa ekspresi. Ada pesan yang belum sempat kukirim, rangkaian kalimat yang penuh keraguan dan harapan. Aku menghapusnya. Percuma. Kemudian, aku menemukan fotonya. Diunggah oleh seorang teman lama. Arion, tersenyum, berdiri di depan sebuah galeri seni. Di sampingnya, seorang wanita. Cantik. Berkelas. Dan... hamil. Dunia terasa runtuh seperti *server down* di tengah malam. **_Rahasia_** itu terungkap. Arion tidak menghilang. Dia hanya menemukan prioritas baru. Kebahagiaan baru. Kebahagiaan yang bukan aku. Lalu, muncul ide di benakku. Bukan ide untuk balas dendam yang kejam, bukan amarah yang membabi buta. Tapi sebuah *tweak* yang elegan, sebuah *uninstall* yang sempurna. Aku menyusun *playlist* lagu favorit kami, lagu-lagu yang dulu sering kami dengarkan bersama sambil menatap *streaming* bintang di YouTube. Aku mengirimkannya kepadanya, dengan judul: "Kenangan yang Kita Lupakan." Tanpa kata. Tanpa penjelasan. Hanya lagu. Setelah itu, aku memblokir semua kontaknya. Menghapus semua fotonya. Melenyapkan jejaknya dari kehidupanku. Seperti menghapus *cache* yang sudah usang. Langkah selanjutnya? Aku mematikan ponselku dan keluar ke teras, membiarkan hujan membasahi wajahku. Rasanya sakit. Tapi juga... bebas. **_Balas dendamku_** adalah kedamaianku. Esok harinya, aku menerima email. Dari Arion. Isinya singkat: "Maaf. Aku menyesal." Aku membalasnya. Satu kata saja. "Lupakan." Lalu, aku menghapus email itu. Aku membeli tiket pesawat. Ke Bali. Sendiri. Untuk mencari matahari dan melupakan hujan. Di bandara, sebelum *boarding*, aku mengirimkan *voice note* terakhir. Kepada siapa? Bukan Arion. Kepada diriku sendiri. "Jangan pernah biarkan seseorang menghapus *smile* yang kamu punya." Aku tersenyum. Senyum terakhir itu... menghilang, seiring dengan *boarding pass* yang tercetak dan langkah kakiku menuju pesawat. ***Dan aku bertanya-tanya, apakah dia akan pernah benar-benar mengerti...***
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama_2
Share on Facebook