## Aku Menatap Cermin, dan Hanya Melihat Bayanganmu Hujan kota menari di jendela apartemenku, membentuk lukisan abstrak yang selalu sama: kesepian. Aroma kopi pahit tak mampu mengusir bayangmu dari setiap sudut ruangan. Bahkan notifikasi *LINE*, yang dulu berdering riang karena pesanmu, kini hanya menyisakan keheningan yang memekakkan. Semuanya berawal dari sana, dari notifikasi itu. Dari jemari yang menari di atas layar, saling bertukar mimpi dan candaan. Kau, dengan senyummu yang menawan di foto profil, dan aku, yang tersembunyi di balik *filter* dan kata-kata jenaka. Kita terhubung dalam dunia maya, membangun istana dari _piksel_ dan janji. Tapi istana itu runtuh secepat ia dibangun. Kau menghilang. Tanpa penjelasan. Tanpa pamit. Pesan-pesanku hanya berstatus 'terkirim', abadi dalam kehampaan digital. Sisa *chat* yang tak terkirim menumpuk di *draft*, menjadi monumen bisu dari harapan yang pupus. Setiap malam, aku menatap cermin, berusaha menemukan diriku sendiri di balik bayanganmu. Semakin aku mencari, semakin aku tersesat. Kenangan tentangmu menghantuiku. Senyummu, tawamu, bahkan aroma parfummu seakan masih melekat di udara. Aku mencoba melupakanmu, menghapusmu dari setiap *playlist*, dari setiap sudut ingatanku. Namun, bayanganmu justru semakin kuat, semakin *Nyata*. Misteri kepergianmu menyiksaku. Aku mencari petunjuk di setiap jejak digital yang kau tinggalkan. *Instagram*, *Twitter*, bahkan *LinkedIn*. Tak ada apa-apa. Seolah kau memang tidak pernah ada. Hingga akhirnya, sebuah pesan dari nomor tak dikenal membuka tabir rahasia. *“Dia tidak bisa lagi menghubungimu. Dia… sakit.”* Dunia seakan berhenti berputar. Kata *SAKIT* itu menghantamku lebih keras dari badai. Semua amarah, semua kebencian, semua pertanyaan, tiba-tiba lenyap, digantikan oleh rasa sakit yang tak terperi. Jadi ini alasannya. Alasan mengapa dia menghilang. Alasan mengapa aku hanya melihat bayangannya di cermin. Alasan mengapa aku begitu tersesat. Tapi ini belum berakhir. Aku menghapus semua fotomu dari ponselku. Aku membuang semua barang yang mengingatkanku padamu. Aku menulis satu pesan terakhir, bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri. Dan inilah *BALAS DENDAMKU*. Aku menemukanmu. Aku menemuimu di rumah sakit. Kau terbaring lemah, dikelilingi oleh alat-alat medis. Kau membuka mata dan menatapku. Ada penyesalan yang dalam di matamu. Aku tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum yang damai. Aku membungkuk dan berbisik di telingamu, "*Aku tahu segalanya*." Lalu aku pergi. Aku meninggalkan rumah sakit itu, dengan hati yang kosong, tapi *PUAS*. Aku menutup bab ini tanpa kata. Tanpa drama. Tanpa air mata. Aku menutup segalanya. Dan kini, aku siap menatap masa depan, *tanpa bayanganmu*. Tapi... akankah aku benar-benar bisa?
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Untuk Kulit

Share on Facebook