**Senja di Lembah Mimpi Patah Hati** Kabut tipis merangkak di antara pepohonan sakura yang berguguran, serupa air mata bidadari yang jatuh ke bumi. Dulu, di bawah naungan bunga-bunga itu, kita menari dalam simfoni bisu, _kau_ dan aku, sepasang jiwa yang terikat benang merah tak kasat mata. Namun, benang itu kini putus, tergerus waktu dan dusta. Bayangmu, selembut sutra yang tertiup angin, masih menari di pelupuk mataku. Wajahmu, bagai lukisan kuno yang memudar, tetap menghantui mimpi-mimpiku yang kelam. Ingatkah kau, kekasih, saat kita berjanji di bawah rembulan perak? Janji yang kini hanya menjadi *GEMA* di telinga sunyi. Kau datang, berlutut di hadapanku, di tengah reruntuhan istana hatiku. Air matamu mengalir deras, membasahi tanah yang kering kerontang. Kau memohon maaf, meratap menyesali semua kesalahan. Suaramu, dulu semerdu seruling bambu, kini terdengar serak dan penuh kepalsuan. Namun, sayang, air matamu tak lagi berarti. Hatiku telah membeku menjadi sebongkah es, terlalu dingin untuk merasakan kehangatan ampunan. *MATA*ku telah kering, tak ada lagi air mata yang tersisa untukmu. Semua telah kupersembahkan, semua telah kubuang, hanya untukmu, dan kau sia-siakan. Aku memandangmu, tak berkedip, seolah mencoba membaca rahasia yang tersembunyi di balik topeng penyesalanmu. Lalu, tiba-tiba, semuanya menjadi *JELAS*. Kau bukan manusia, bukan pula dewa. Kau hanya ilusi, bayangan dari dimensi waktu yang terlupakan. **Kau adalah pantulan dari kerinduan hatiku sendiri.** Sebuah pantulan yang terlalu sempurna, terlalu indah, hingga melukai jauh lebih dalam dari kenyataan pahit. Rasa sakit ini, seperti pedang bermata dua, membunuhku perlahan namun pasti. Dan kini, dengan bibir bergetar, kau berbisik, "...Kau tidak akan pernah melupakanku, kan?"
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Kosmetik
Share on Facebook