Baiklah, inilah kisah dracin berjudul 'Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu di Pikiranku': **Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu di Pikiranku** Hujan turun di atas makam, seperti air mata langit yang tak pernah kering. Dinginnya menembus jubah tipis yang kupakai, meskipun aku tak lagi merasakan dingin. Aku hanyalah bayangan, gema dari masa lalu yang seharusnya terkubur. Namun, takdir *memaksa*ku kembali. Di sini, di antara batu nisan yang berlumut dan bunga krisan yang layu, aku berdiri. Mencari. Entah apa. Kebenaran? Keadilan? Atau mungkin, hanya sebaris nama yang terukir dalam hatiku. Namanya... *Lian*. Dulu, aku adalah Xiao Chen, seorang pelukis muda dengan mimpi setinggi langit. Lian adalah cahayaku, inspirasiku, **cintaku**. Namun, mimpi itu dipadamkan terlalu cepat. Sebuah kecelakaan tragis, ataukah… pembunuhan? Aku tak pernah tahu pasti. Aku mati sebelum sempat mengucapkan tiga kata keramat: Aku mencintaimu. Sekarang, aku kembali sebagai roh. Tak bisa menyentuh, tak bisa berteriak, hanya bisa mengamati. Aku mengikuti Lian dalam diam. Melihatnya tertawa, menangis, menjalani hidup tanpa diriku. Setiap senyumnya adalah pisau yang menusuk hatiku. Setiap air matanya adalah kutukan untukku. Dunia arwah itu sunyi dan indah. Penuh dengan kabut lavender dan suara lonceng angin yang melankolis. Tapi, duniaku adalah dunia manusia. Dunia Lian. Aku terjebak di antara dua alam, terikat oleh janji yang tak terucap, oleh kebenaran yang tersembunyi. Bayangan-bayangan lain di dunia arwah mencoba menarikku, membujukku untuk melepaskan dunia manusia. Mereka berbisik tentang kedamaian, tentang kebebasan dari rasa sakit. Tapi, aku menolak. Aku **HARUS** tahu apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang merenggut nyawaku? Mengapa? Hari demi hari, aku mengumpulkan petunjuk. Percakapan yang terpotong, tatapan curiga, bisikan di balik pintu. Aku menemukan konspirasi, pengkhianatan, dan kebohongan yang terjalin seperti jaring laba-laba. Ternyata, kematianku bukanlah kecelakaan. Ada seseorang yang menginginkanku mati. Aku ingin membalas dendam! Aku ingin menghancurkan mereka yang telah merenggut kebahagiaanku dan Lian. Tapi, semakin aku dekat dengan kebenaran, semakin aku menyadari bahwa balas dendam bukanlah jawabannya. Itu hanya akan memperpanjang penderitaan. Yang kuinginkan bukanlah hukuman, tapi pengakuan. Aku ingin mereka mengakui perbuatan mereka, membersihkan namaku, dan membebaskan Lian dari bayang-bayang masa lalu. Aku ingin kedamaian, bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuknya. Akhirnya, saat kebenaran terungkap di hadapan Lian, aku merasakan beban yang selama ini membebani pundakku menghilang. Air matanya adalah pembebasanku. Kemaafannya adalah hadiah terbesarku. Tugas sudah selesai. Aku bisa pergi sekarang. Matahari terbit di balik awan kelabu, memancarkan seberkas cahaya keemasan di atas makam. Aku berbalik, menghadap dunia arwah, siap untuk memulai perjalanan baru. …Akhirnya damai.
You Might Also Like: 53 Kelebihan Sunscreen Lokal Untuk
Share on Facebook