Kisah Populer: Ratu Itu Berjanji Pada Rakyatnya, Tapi Janjinya Hanya Untuk Satu Nama Yang Telah Mati
Ratu itu Berjanji pada Rakyatnya, Tapi Janjinya Hanya untuk Satu Nama yang Telah Mati
Hujan kota membasahi jendela apartemen, pantulan lampu neon menari di genangan air. Di balik jendela, Li Mei, sang "Ratu" bagi jutaan pengikutnya di media sosial, memeluk lututnya. Gelar itu terasa hampa. Tangannya menggenggam ponsel, layarnya menampilkan foto seorang pria dengan senyum yang menular: Jian, cahaya-nya yang telah padam.
Notifikasi tak henti-hentinya berdering, pujian dan permintaan. Ia adalah ikon, panutan, wajah dari harapan. Tapi hatinya... hatinya hanya berdenyut untuk Jian.
Dulu, cinta mereka tumbuh di antara notifikasi obrolan larut malam, emoji hati yang disembunyikan dalam rapat-rapat formal, dan janji pertemuan rahasia di kedai kopi yang beraroma melankolis. Aroma kopi itu kini terasa pahit, sama seperti sisa chat yang tak terkirim di ponselnya. Pesan-pesan yang penuh canda, rencana masa depan, dan sumpah setia yang kini hanya menjadi hantu.
Jian adalah wartawan investigasi, idealis yang tak kenal takut. Ia terlalu dekat dengan sebuah rahasia, sebuah konspirasi yang mengancam kekuasaan. Lalu, ia menghilang. Kecelakaan mobil, kata mereka. Tapi Li Mei tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa ada sesuatu yang lebih gelap di balik itu.
Janji itu terucap di depan pusara Jian, di bawah rintik hujan yang menyakitkan: "Aku akan membuat mereka yang bertanggung jawab membayar."
Li Mei menggunakan platformnya, pengaruhnya, untuk menggali kebenaran. Setiap unggahan, setiap wawancara, setiap pidato adalah langkah maju dalam permainannya. Ia menarik benang-benang korupsi, satu per satu, dengan keanggunan seorang ratu dan ketegasan seorang pejuang.
Perlahan, ia menemukan mereka. Para pengusaha korup, politisi licik, dan dalang bayangan yang menarik tali. Mereka meremehkannya, menganggapnya hanya sebagai "gadis cantik dengan pengikut banyak". Kesalahan fatal.
Malam itu, setelah siaran langsung yang membeberkan semua bukti kejahatan mereka, Li Mei berdiri di balkonnya. Hujan telah berhenti, bintang-bintang berkedip lemah di langit. Ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
"Li Mei," suara dingin dari seberang sana. "Kau bermain api."
"Aku hanya memadamkan kegelapan," jawabnya, suaranya setenang badai yang akan datang.
Rahasia itu terungkap. Jian tidak hanya dibunuh, ia dikhianati oleh seseorang yang dekat dengannya, seseorang yang dianggapnya sahabat. Seseorang yang iri dengan talenta dan ketulusannya. Seseorang yang sangat penting bagi Li Mei.
Malam itu, Li Mei membuat keputusan. Bukan dengan teriakan atau amarah. Tapi dengan keheningan dan tekad yang membara. Balas dendamnya bukan dengan darah, melainkan dengan pemusnahan.
Beberapa hari kemudian, sebuah pengumuman mengejutkan dunia: Li Mei mengundurkan diri dari semua jabatannya. Ia meninggalkan kerajaannya, gelar ratunya, dan semua yang pernah ia perjuangkan.
Ia menghilang, meninggalkan pesan terakhir di media sosialnya: Sebuah foto Jian dengan senyumnya yang menular. Di bawahnya tertulis: "Semoga kau tenang. Janjiku ditepati."
Dan kemudian, ia menghilang.
Senyum terakhir di bibirnya adalah rahasia. Apakah ia menemukan kedamaian? Apakah ia memulai hidup baru? Atau apakah ia merencanakan sesuatu yang lebih besar?
Tidak ada yang tahu. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang menghantui kota, bisikan angin yang membawa nama Jian, dan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah keadilan benar-benar ditegakkan, atau hanya ilusi?
You Might Also Like: 61 Cara Face Wash Lokal Tanpa Bahan