Endingnya Gini! Bayangan Yang Menyeret Jubah Kaisar
Di antara gerbang istana yang menjulang, di mana kabut sungai Li menari seperti hantu penasaran, terhampar kisah yang terlupakan. Kaisar Langit, Zhu Long, penguasa segalanya yang tampak dan tidak tampak, terperangkap dalam labirin kenangan yang tak terjamah.
Jubahnya, terbuat dari benang sutra bulan dan kilauan bintang jatuh, diseret oleh bayangan yang lebih panjang dari usianya sendiri. Bayangan itu, Xi Ying, sang penari surga yang suaranya bagai simfoni terlarang. Kecantikannya, setara dengan rembulan yang berusaha menyaingi mentari, terukir abadi dalam lukisan gulung yang kini berdebu di perpustakaan terlarang.
Cinta mereka, kabur seperti mimpi yang dihirup di antara bunga Mei, hanya bersemi di taman rahasia di balik Air Terjun Naga yang bergemuruh. Sentuhan jari Zhu Long pada pipi Xi Ying adalah lukisan abstrak yang tak pernah selesai, melodi yang berhenti di tengah nada tinggi.
Konon, Xi Ying adalah reinkarnasi Dewi Bulan, Chang'e, yang turun ke bumi karena kesepian di istana rembulan. Kaisar Zhu Long, yang terbebani tahta dan ramalan, hanya bisa menatapnya dari kejauhan, seperti seorang pengembara yang merindukan rumah yang tak akan pernah bisa diraih.
Mereka bertemu diam-diam di bawah pohon sakura yang mekar setiap seribu tahun sekali. Di sana, di antara kelopak yang berjatuhan seperti air mata, mereka bertukar janji yang hanya diucapkan dalam keheningan. Cinta mereka adalah rahasia yang dititipkan pada angin malam, janji yang tertulis di pasir pantai yang segera dihapus ombak.
Namun, nasib, seperti naga yang haus darah, selalu menemukan jalannya.
Suatu malam, saat rembulan tersenyum licik dari balik awan, Xi Ying dituduh sebagai mata-mata kerajaan musuh. Tuduhan itu, setajam pedang dingin, menembus jantung kaisar. Ia tahu Xi Ying tidak bersalah, TAPI hukum kerajaan HARUS ditegakkan.
Dengan hati hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah, Zhu Long menandatangani dekrit hukuman mati. Xi Ying, dengan senyum pahit di bibirnya, menari terakhir kali di hadapan kaisar. Tarian itu, sebuah elegi untuk cinta yang hilang, sebuah perpisahan abadi.
Akhirnya, tibalah saat pengungkapan. Saat Xi Ying menghembuskan nafas terakhirnya, sebuah jepit rambut giok Kuno jatuh dari rambutnya. Jepit rambut yang identik dengan milik Permaisuri Agung, ibu Zhu Long yang telah lama meninggal. Xi Ying BUKANLAH mata-mata. Ia adalah putri Zhu Long yang hilang, hasil cinta terlarang antara sang Permaisuri dan seorang panglima perang. Kaisar telah membunuh darah dagingnya sendiri.
Keheningan istana dipecah oleh raungan pilu Zhu Long. Bayangan yang menyeret jubahnya kini benar-benar bayangan Xi Ying, terikat selamanya padanya sebagai pengingat akan kesalahan yang tak termaafkan. Keindahan cinta mereka, kini hanya menggoreskan luka yang lebih dalam dari lautan.
Dan di sudut kamar Zhu Long, lukisan gulung Xi Ying tersenyum getir, seolah berbisik:
Apakah cinta memang harus membunuh?
You Might Also Like: Gabrielle Union Reflects On Her