FULL DRAMA! Langit Yang Mengulang Keajaiban
Langit yang Mengulang Keajaiban
Malam merayap di atas pegunungan yang berselimut salju, kejam dan tak berujung. Udara membeku hingga ke tulang, membawa serta bisikan-bisikan masa lalu yang berlumuran darah. Di tengah keheningan memilukan ini, berdiri dua jiwa yang terikat tak terpisahkan, oleh rantai cinta dan kebencian yang sama kuatnya.
Dia, XIAO YUN, berdiri tegak di hadapan altar leluhur yang berasap. Cahaya obor menari liar di wajahnya yang dingin, menyoroti bekas luka di pipinya – pengingat abadi akan malam yang merenggut keluarganya. Di tangannya tergenggam erat pedang pusaka, bilahnya memantulkan nyala api seperti mata iblis yang mengintai.
Di hadapannya, berlutut LIN WEI, sosok rapuh dalam balutan sutra putih yang ternoda. Air matanya membeku di pipi, mencampur dengan lelehan lilin yang menetes dari altar. Matanya, yang dulu penuh cinta, kini dipenuhi ketakutan dan penyesalan yang mendalam.
"Kenapa, Xiao Yun? Kenapa semua ini harus terjadi?" suara Lin Wei bergetar, kalah oleh gemuruh angin malam.
Xiao Yun tidak menjawab. Matanya berkilat dingin, menatap Lin Wei seolah menatap hantu masa lalu. "Kenapa? Kau bertanya kenapa? Tanya pada dirimu sendiri, Lin Wei. Tanya pada keluarga Lin yang berkhianat. Tanya pada darah ayahku yang membasahi tanah ini!"
RAHASIA lama mulai terkuak, terurai satu persatu seperti benang kusut yang dipaksa terurai. Dulu, keluarga Xiao dan Lin adalah sekutu, terikat janji setia di bawah langit yang sama. Namun, ambisi dan keserakahan meracuni hati Lin Wei, membuatnya mengkhianati Xiao Yun dan keluarganya demi kekuasaan dan kejayaan.
"Aku… aku tidak tahu. Aku masih muda saat itu. Ayahku…" Lin Wei terisak, mencoba membela diri.
"Ayahmu? Ayahmu adalah iblis yang menyamar sebagai manusia! Dia mencuri segalanya dariku – kehormatan, keluarga, masa depanku! Dan kau… kau diam saja, menikmati buah dari pengkhianatan itu!" Xiao Yun meludah, amarahnya membara seperti api yang membakar hutan kering.
Ia mendekat, langkahnya tenang namun mematikan. Bau dupa bercampur dengan aroma darah yang menguar dari pedangnya. Di matanya, Lin Wei melihat MAUT yang tak terhindarkan.
"Dulu, aku mencintaimu, Lin Wei. Mencintai kau lebih dari nyawaku sendiri. Tapi sekarang… cintaku telah berubah menjadi BENCI yang membakar. Dan kebencian ini… hanya bisa dipadamkan dengan darah."
Di atas abu janji yang telah dilanggar, Xiao Yun mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Lin Wei memejamkan mata, menerima nasibnya.
BALAS DENDAM itu sunyi, tenang, namun mematikan. Seperti angin malam yang menyapu salju, menghapus jejak masa lalu dan mengubur rahasia yang kelam. Hati yang terlalu lama menunggu akhirnya mendapatkan kedamaiannya.
Salju memerah.
Dan di tengah keheningan yang mencekam, Xiao Yun berbisik: "Kisah kita belum selesai."
You Might Also Like: Wajib Baca Bayangan Yang Menyeret Jubah