Cerpen: Pelukan Yang Tak Pernah Kau Lupakan
Hujan jatuh di atas nisan marmer, airnya mengalir membentuk sungai kecil di antara ukiran nama Xiao Mei. Suaranya lirih, seperti bisikan rahasia dari dunia lain, dunia di mana dia berada sekarang. Bukan lagi Xiao Mei yang dulu, dengan tawa ceria dan mata yang berbinar penuh semangat. Sekarang, ia hanyalah bayangan, aroma melati yang tertinggal di udara, sentuhan dingin di pipi seseorang yang merindukannya.
Xiao Mei kembali. Bukan untuk menakut-nakuti, bukan pula untuk menuntut balas dendam. Kebenaran adalah apa yang ia cari. Kata yang tak sempat terucap, janji yang tak sempat ditepati, pelukan yang tak sempat ia berikan.
Rumah tua itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Bayangan-bayangan menari di dinding, mengikuti irama tetesan hujan yang membasahi atap. Ia mengawasi. Suaminya, Li Wei, duduk di kursi goyang, menatap kosong ke arah perapian yang sudah lama padam. Wajahnya dipenuhi guratan penyesalan, matanya redup menyimpan luka yang mendalam.
Setiap malam, Xiao Mei mencoba berkomunikasi. Menggerakkan tirai, menjatuhkan foto, membiarkan hawa dingin menusuk tulang. Ia ingin Li Wei tahu bahwa ia ada, bahwa ia masih mencintainya, bahwa ada sesuatu yang harus mereka selesaikan.
Namun, Li Wei tak melihatnya. Ia hanya merasakan kehadiran yang mengganggu, bisikan yang sayup-sayup terdengar di telinganya. Ia mengira dirinya gila, dihantui oleh rasa bersalah.
Suatu malam, di tengah badai yang mengamuk, Xiao Mei berhasil. Ia membisikkan nama seorang wanita – Lin Yue – ke telinga Li Wei. Nama itu membuatnya terkejut. Lin Yue adalah sahabat Xiao Mei, wanita yang diam-diam mencintai Li Wei, dan yang paling penting, wanita yang mengetahui rahasia kematian Xiao Mei.
Li Wei mencari Lin Yue. Di sebuah kedai teh di ujung kota, ia menemukan kebenaran yang selama ini tersembunyi. Xiao Mei meninggal bukan karena kecelakaan, tapi karena diracun. Lin Yue mengetahui semuanya, namun terlalu takut untuk berbicara. Ia menyimpan rahasia itu demi melindungi Li Wei, yang dicintainya dengan segenap jiwa.
Ketika kebenaran terungkap, Xiao Mei merasakan beban di dadanya terangkat. Bukan balas dendam yang ia inginkan, tapi pengakuan. Ia ingin Li Wei tahu bahwa ia mencintainya, bahwa ia tak pernah menyalahkannya atas apa pun, bahwa ia hanya ingin ia bahagia.
Di bawah sinar rembulan yang menembus celah awan, Xiao Mei mendekati Li Wei. Ia tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa memeluknya. Namun, ia bisa membisikkan kata-kata terakhirnya ke dalam hatinya. "Aku memaafkanmu. Aku mencintaimu. Pergilah, dan berbahagialah."
Ia melihat Li Wei tersenyum, air mata mengalir di pipinya. Ia tahu, akhirnya, Li Wei mengerti.
Hujan berhenti. Bayangan Xiao Mei memudar perlahan, menyatu dengan keheningan pagi. Tugasnya selesai. Ia menemukan kedamaian.
Apakah ini akhir, ataukah awal dari sebuah perjalanan baru yang lebih panjang?
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Terbaik Dengan