Ini Baru Drama! Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana
Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana
Malam di istana terasa seperti palung yang tak berujung. Udara dingin menggigit tulang, sama dinginnya dengan tatapan Kaisar Zhao Lin. Di singgasananya yang megah, ia duduk bagai patung batu, hanya matanya yang masih membara – api dendam yang dipendam bertahun-tahun. Di depannya, Putri Lian, wanita yang dulu dipujanya, kini berlutut dalam balutan gaun putih yang ternoda darah.
Salju turun dengan brutal, menutupi halaman istana dengan lapisan putih yang kontras dengan noda merah yang menganga. Bau dupa yang menenangkan tak mampu menutupi aroma anyir yang menyesakkan. Di antara kepulan asap, air mata Putri Lian mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.
"Zhao Lin," bisiknya, suaranya parau. "Kenapa kau melakukan ini?"
Kaisar Zhao Lin tertawa hambar. "Kau bertanya kenapa? Setelah semua yang kau lakukan? Setelah pengkhianatanmu?"
Flashback mengalir dalam benaknya. Malam rembulan purnama saat mereka berjanji sehidup semati di bawah pohon sakura yang kini telah meranggas. Janji di atas abu, kini hanya menjadi debu yang beterbangan diterpa angin.
Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Namun, rahasia kelam dari masa lalu keluarga mereka perlahan terkuak. Ayah Putri Lian, seorang jenderal besar yang dihormati, ternyata dalang di balik kematian ayah Kaisar Zhao Lin. Sebuah konspirasi yang direncanakan dengan matang, meninggalkan luka mendalam di hati seorang anak laki-laki yang haus akan keadilan.
"Aku... aku tidak tahu apa-apa tentang itu," Putri Lian membela diri, bibirnya bergetar.
"Kau berbohong! Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri! Surat wasiat ayahmu... semuanya terungkap!" Kaisar Zhao Lin bangkit dari singgasana, langkahnya menggelegar di lantai marmer. Ia mendekat ke arah Putri Lian, tatapannya setajam pedang.
"Cinta... cinta kita... apa artinya semua itu?" tanya Putri Lian, putus asa.
Kaisar Zhao Lin membungkuk, membisikkan kata-kata yang menghancurkan hatinya. "Cinta adalah senjata. Dan kau, Putri Lian, adalah senjata yang sangat ampuh."
Balas dendam Kaisar Zhao Lin tidak terburu-buru. Ia tidak akan membunuh Putri Lian dengan mudah. Ia ingin ia merasakan penderitaan yang sama, merasakan sakitnya dikhianati oleh orang yang dicintai. Ia mencopot gelar kebangsawanannya, mengasingkannya ke kuil terpencil di puncak gunung yang beku. Kehidupan yang sepi, tanpa harapan, tanpa cinta.
Bertahun-tahun kemudian, terdengar kabar bahwa Putri Lian telah meninggal dunia. Kaisar Zhao Lin tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia telah membungkam hatinya, mengubur perasaannya dalam-dalam. Namun, di malam sunyi, ia seringkali mendapati dirinya menatap bulan, mengingat senyum Putri Lian yang dulu begitu cerah.
Kematian Putri Lian tidak mengakhiri segalanya. Ada seorang anak laki-laki yang lahir di kuil terpencil itu, seorang anak yang mewarisi kecantikan dan kecerdasan ibunya. Anak itu tumbuh besar dengan dendam membara di hatinya. Ia dilatih oleh para biksu yang setia pada Putri Lian, dipersiapkan untuk satu tujuan: MEMBALAS DENDAM pada Kaisar Zhao Lin.
Suatu malam, di tengah perayaan kemenangan, anak laki-laki itu, yang kini telah menjadi pemuda yang tampan dan berbahaya, muncul di hadapan Kaisar Zhao Lin. Ia menyerahkan sebuah cawan berisi anggur beracun, senyum dingin terukir di bibirnya.
"Salam dari ibuku," bisiknya pelan.
Kaisar Zhao Lin menerima cawan itu, meneguknya hingga tandas. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia telah menunggu saat ini.
"Kau pikir... dengan membunuhku... kau akan membalas dendam?" Kaisar Zhao Lin berbisik dengan suara serak, menatap pemuda itu dengan tatapan sedih.
Pemuda itu tersenyum. "Tidak. Balas dendam yang sebenarnya adalah... kau akan hidup dengan penyesalan selamanya."
Kaisar Zhao Lin jatuh tersungkur, napasnya tersengal. Ia menatap langit-langit istana yang megah, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis. Ia menangisi cinta yang hilang, kesempatan yang terbuang, dan bekas luka yang akan terus membekas di singgasananya.
Di saat terakhirnya, ia menyadari bahwa balas dendam yang paling mematikan bukanlah kematian, melainkan hidup dengan hati yang hancur selamanya.
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Viral Di Tiktok