Cerpen Terbaru: Tangisan Yang Tak Lagi Kusembunyikan
Tangisan yang Tak Lagi Kusembunyikan
Aula EMAS istana berkilauan di bawah ratusan lilin kristal, namun kemegahan itu terasa menyesakkan. Setiap langkah kaki Putri Lian teredam oleh karpet tebal, seolah suara-suara di istana ini sengaja diredam, hanya menyisakan bisikan-bisikan pengkhianatan yang menggantung di udara. Tatapan tajam para pejabat mengikutinya, menilai setiap gerak-geriknya, menunggu celah untuk menjatuhkannya.
Putri Lian, pewaris takhta yang sah, terjebak dalam permainan takhta yang kejam. Satu-satunya yang memberinya kekuatan adalah cinta terlarangnya pada Jenderal Zhao, seorang pria yang setia pada kekaisaran, namun berdarah pemberontak. Cinta mereka adalah bahaya, sebuah rahasia yang bisa menghancurkan keduanya.
"Lian," suara Jenderal Zhao memecah kesunyian taman tersembunyi. Dia berdiri di bawah pohon persik yang sedang bermekaran, siluetnya gagah perkasa di bawah cahaya bulan. "Kau tahu aku tidak bisa menjanjikanmu apa pun. Cintaku padamu adalah penghianatan pada sumpahku."
Lian menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Dan aku? Apa aku harus mengorbankan cintaku demi takhta yang berlumuran darah?"
Cinta mereka adalah pedang bermata dua. Setiap pertemuan adalah perjudian. Setiap janji adalah ancaman. Lian tahu, ada mata-mata di mana-mana, menunggu mereka melakukan kesalahan.
Namun, yang tidak diketahui oleh siapapun, termasuk Jenderal Zhao, adalah bahwa Lian juga punya rahasia. Selama bertahun-tahun, dia mengumpulkan bukti korupsi dan pengkhianatan di istana, merencanakan balas dendam yang akan datang. Dia tidak lemah. Dia hanyalah seorang aktris yang ulung.
Suatu malam, ketika intrik mencapai puncaknya, Lian mengumpulkan semua pejabat tinggi di aula emas. "Selama ini, aku telah berpura-pura menjadi boneka. Kalian meremehkanku, mengira aku hanya seorang wanita lemah." Suaranya menggema di seluruh aula, penuh ketegasan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Dia membeberkan bukti-bukti korupsi yang telah dia kumpulkan, membongkar satu per satu konspirasi yang telah lama berakar di istana. Jenderal Zhao, yang berdiri di barisan terdepan para prajurit, menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Lian menoleh padanya. "Bahkan kau, Zhao. Kau adalah bagian dari permainan ini. Cintamu padaku hanyalah alat untuk meraih kekuasaan."
Mata Zhao dipenuhi rasa sakit dan pengkhianatan. Dia tidak tahu bahwa Lian telah sejauh ini. Dia tidak menyadari bahwa cintanya, meski tulus, telah dibutakan oleh ambisi.
Dengan satu gerakan tangan, Lian memberikan perintah. Para prajurit, yang selama ini setia padanya secara diam-diam, menangkap para pengkhianat. Aula emas berubah menjadi medan perang.
Lian berjalan mendekati Zhao, menatapnya dengan dingin. "Kau telah mengkhianatiku, Zhao. Kau telah mengkhianati cintaku. Sekarang, kau akan merasakan apa artinya kehilangan segalanya."
Zhao berlutut di hadapannya, wajahnya penuh penyesalan. "Lian, kumohon..."
Lian tidak mempedulikannya. Dia mengangkat tangannya, memberikan isyarat terakhir. Zhao dieksekusi di tempat.
Malam itu, istana dipenuhi darah dan tangisan. Namun, tangisan Lian tidak lagi tersembunyi. Tangisan itu adalah simfoni kemenangan, simfoni balas dendam.
Di pagi hari, Putri Lian mendeklarasikan dirinya sebagai Kaisar. Kekaisaran baru telah lahir, diperintah oleh seorang wanita yang telah mengalami pahitnya pengkhianatan dan manisnya balas dendam. Dia menatap matahari terbit, matanya memancarkan tekad yang membara.
Dan kemudian, dia tersenyum tipis, karena sebuah rahasia yang lebih besar lagi masih tersembunyi di balik senyumnya...
You Might Also Like: 5 Rahasia Arti Mimpi Digigit Ulat