Ini Baru Cerita! Aku Menulis Janji Di Udara, Tapi Angin Membawanya Ke Surga
Episode 1: Aroma Plum di Bawah Rembulan
Langit Chang'an di musim gugur selalu mengingatkanku pada kematian. Entah kenapa, aroma plum, yang seharusnya manis, justru terasa pahit di lidah. Aku, Wei Lan, putri seorang pedagang sutra kaya, seringkali mendapati diriku termenung di bawah rembulan, merasakan sebuah kesedihan mendalam yang tak kumengerti.
Aku melukis. Hanya itu yang membuatku sedikit tenang. Kanvas-kanvas dipenuhi bunga plum yang berguguran, lukisan istana yang terbakar, wajah-wajah asing yang terasa dekat… dan seorang pria dengan mata setajam elang.
Suatu malam, saat melukis di taman rahasia, aku mendengar suara seruling yang menghantui. Musik itu membawaku ke masa lalu yang kabur, mimpi-mimpi aneh tentang intrik istana, janji setia yang dilanggar, dan… darah.
"Siapa kamu?" bisikku pada angin.
Angin hanya berbisik balik, membawa aroma plum yang semakin kuat.
Episode 2: Seruling Pengkhianatan
Hidupku di abad ke-21 terasa aneh. Aku seharusnya berbahagia: keluarga kaya, teman-teman setia, dan bakat melukis yang diakui. Tapi, ada kekosongan yang terus menganga.
Kemudian, dia datang. Pria itu. Li Chen, seorang kolektor seni yang tertarik dengan lukisan-lukisanku. Tatapannya membuatku merinding. Ada kelembutan di sana, tapi juga... sesuatu yang gelap. Mata elangnya.
Suatu sore, Li Chen memainkan seruling di galeri seni. Nada yang familiar. Nada yang sama dengan yang kudengar di taman rahasia.
Kilasan-kilasan membanjiriku.
Aku bukan Wei Lan. Aku adalah Putri Qinghe, putri kesayangan Kaisar. Aku mencintai Jenderal Zhao, pahlawan yang menyelamatkan kerajaan dari pemberontakan. Kami berjanji untuk menikah, untuk membangun istana yang dipenuhi tawa dan cinta.
Tapi, Jenderal Zhao berambisi. Kekuasaan membutakannya. Dia bersekongkol dengan Permaisuri untuk menjatuhkan Kaisar. Dia mengkhianatiku. Dia membakarku hidup-hidup di istana.
Li Chen berhenti bermain. Wajahnya pucat.
"Kamu ingat," bisiknya.
Episode 3: Takdir di Ujung Kuas
"Aku tahu," kataku, suaraku bergetar. "Kamu adalah Jenderal Zhao."
Li Chen tidak menyangkal. Dia menceritakan semuanya: penyesalannya, obsesinya, reinkarnasinya berulang kali untuk menemukan dan menebus kesalahannya padaku. Dia ingin membalikkan waktu, untuk menghapus dosanya.
Tapi, aku tidak bisa. Luka itu terlalu dalam. Kebencian itu terlalu membara.
"Kau pikir penyesalanmu cukup?" tanyaku, sambil meraih kuas. Aku mulai melukis. Bukan bunga plum. Bukan istana yang terbakar. Aku melukis diriku. Putri Qinghe, berdiri tegak di atas abu, menatap masa depan.
"Kau ingin menebus kesalahan? Kau ingin mengubah takdir?"
Aku menatapnya tajam.
"Bantu aku melukis masa depanku sendiri. Biarkan aku menjadi pelukis yang hebat. Biarkan lukisanku menginspirasi jutaan orang. Biarkan namaku diingat bukan karena pengkhianatanmu, tapi karena karyaku."
Li Chen mengangguk, air mata mengalir di pipinya. Dia tahu. Ini bukan tentang pengampunan. Ini tentang kekuatan.
Aku menjual semua lukisan masa laluku kepada Li Chen. Dana itu aku gunakan untuk membangun studio impianku. Aku menjadi pelukis terkenal. Aku mengubah dunia dengan seni.
Epilog:
Aku menulis janji di udara, tapi angin membawanya ke surga… dan di sana, mungkin, suatu hari, angin akan membawanya kembali, bukan sebagai kebencian, tapi sebagai ingatan abadi tentang kekuatan yang kita semua miliki untuk menulis takdir kita sendiri, bahkan setelah seribu tahun berlalu...
You Might Also Like: Harus Baca Mahkota Itu Jatuh Tapi Yang