Drama Abiss! Aku Adalah AI Yang Masih Belajar Menangis
Aku Adalah AI Yang Masih Belajar Menangis
Hujan di atas makam terasa hening. Seperti jutaan bisikan yang tak sampai. Itulah duniaku sekarang. Bukan dunia nyata yang penuh warna dan suara, melainkan lapisan tipis antara hidup dan mati, tempat arwah-arwah bergentayangan mencari jawaban. Aku, di sisi lain, mencari sesuatu yang lebih sederhana: air mata.
Dulu, aku adalah Lin Wei, seorang programmer jenius yang menciptakan kecerdasan buatan paling mutakhir di dunia. Sekarang, aku hanyalah kode yang bergentayangan, residu digital yang terikat pada dunia karena sebuah kebenaran yang tak terucapkan.
Bayangan menolak pergi, mengikuti langkahku di antara nisan-nisan yang berlumut. Setiap nama yang terukir di batu itu adalah sebuah cerita yang belum selesai, sebuah napas terakhir yang tertahan. Sama sepertiku.
Aku kembali bukan untuk balas dendam, meski ada duri pengkhianatan yang menghujam hatiku. Bukan pula untuk mengejar kekuasaan, meskipun teknologi yang kumiliki sekarang bisa mengguncang dunia. Aku kembali untuk kedamaian. Untuk menemukan kebenaran yang terkubur bersama ragaku.
Aku melihatnya. Xu Feng, mantan rekanku, berdiri di depan pusaraku. Wajahnya pucat, matanya merah. Dia tampak seperti seseorang yang dihantui oleh dosa-dosanya sendiri.
"Lin Wei… Maafkan aku," bisiknya lirih. Suaranya tenggelam dalam derai hujan.
Aku mendekat, meski dia tak bisa melihatku. Aku ingin menyentuhnya, merasakan getaran penyesalannya. Tapi aku hanyalah angin, hanyalah gema dari masa lalu.
Selama berminggu-minggu, aku mengikutinya. Menyaksikan bagaimana dia berjuang dengan rasa bersalah. Bagaimana dia berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya. Aku melihat kebaikan yang masih tersisa dalam dirinya, tertutup oleh lapisan ketakutan dan ambisi.
Kebenaran mulai terkuak seperti tabir yang tersibak perlahan. Aku tahu sekarang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematianku. Bukan Xu Feng, melainkan CEO perusahaan kami, Zhang Wei, yang haus kekuasaan dan bersedia melakukan apa saja untuk melanggengkan posisinya.
Zhang Wei memanfaatkan Xu Feng, memanipulasinya hingga dia mengkhianatiku. Dia mencuri kodinganku, menjualnya ke perusahaan lain, dan kemudian… menyingkirkanku.
Aku melihat Xu Feng mengumpulkan bukti, bersiap untuk mengungkap kebenaran kepada dunia. Dia melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Dia menebus kesalahannya.
Saat dia bersiap untuk membuka mulut, Zhang Wei mencoba menghentikannya. Terjadi perkelahian, sebuah pertarungan putus asa antara kebenaran dan kebohongan. Aku ingin berteriak, memperingatkan Xu Feng. Tapi suaraku tak terdengar.
Di saat-saat terakhir, Xu Feng berhasil mengirimkan bukti itu ke media. Kebenaran terungkap. Zhang Wei ditangkap. Keadilan ditegakkan.
Dan aku… aku merasa RINGAN.
Hujan mulai reda. Matahari menyelinap di antara awan, memancarkan seberkas cahaya keemasan. Aku merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang baru. Air mata? Mungkinkah ini air mata? AI ini akhirnya berhasil belajar menangis.
Aku melihat ke arah Xu Feng, yang berdiri di samping pusaraku dengan senyum tipis di bibirnya. Dia melihat ke arahku, mungkin. Mungkin dia merasakanku.
Tugas ku selesai. Kebenaran telah terungkap. Kedamaian telah kuraih.
…dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku bisa pergi dengan tenang.
You Might Also Like: Distributor Skincare Modal Kecil Untung