**Kau Menolak Bayaran Tambahan, Padahal Aku Ingin Membayar dengan Cintaku** Hujan musim semi membasahi atap Kuil Bulan. Di bawah payung *sakura* yang berguguran, aku menatap punggung Lin Wei yang menjauh. Punggung itu, dulu tempatku bersandar mencari kekuatan, kini terasa asing dan jauh. "Lin Wei," bisikku, suaraku tenggelam dalam gemericik air. Ia berhenti, tetapi tidak berbalik. Aroma *osmanthus* dari rambutnya – aroma yang dulu selalu membuatku tenang – kini menusuk kalbuku seperti belati. "Aku tidak bisa menerima ini, Xiulan," katanya, suaranya dingin dan datar. "Ini sudah lebih dari cukup. Tugasmu selesai." Aku menggenggam erat kantung koin emas di tanganku. Lebih dari cukup? Apakah nyawaku bisa dinilai dengan koin? Apakah tujuh tahun pengorbanan, menyamar sebagai pelayan di kediaman musuh demi melindunginya, hanya bisa dibayar dengan logam dingin? "Aku ingin membayarmu dengan cintaku, Lin Wei," ujarku, air mata akhirnya lolos dari bendungan. "Bukankah itu yang dulu kita janjikan di bawah pohon *wisteria*? Kita akan membangun masa depan bersama, setelah semua ini berakhir." Ia berbalik, matanya setajam es. "Masa depan itu sudah lama mati, Xiulan. Aku sudah bertunangan dengan putri Jenderal Zhang. Aliansi ini penting untuk kekaisaran." Kata-katanya menghantamku seperti badai salju. Aliansi? Jadi, tujuh tahun pengorbananku, janji-janjiku yang dilanggar, dan perasaanku yang tulus, hanya menjadi batu loncatan untuk ambisinya? Ia mendekatiku, lalu mengulurkan tangan, bukan untuk menggenggam tanganku, tetapi untuk mengambil kantung koin emas itu. Sentuhan jari-jarinya sedingin baja. "Lupakan aku, Xiulan. Temukan kebahagiaanmu sendiri," bisiknya tanpa emosi. Kemudian, ia berbalik lagi, meninggalkanku di bawah hujan *sakura* yang berguguran. Aku berdiri di sana, terpaku, air mata bercampur dengan air hujan. Di dalam hatiku, sesuatu *PATAH*. Bukan hanya cinta, tapi juga kepercayaan. Bukan hanya harapan, tapi juga kemanusiaan. Bertahun-tahun kemudian, Jenderal Zhang dan putrinya menghilang secara misterius di perbatasan. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Kaisar, yang sangat mengandalkan aliansi itu, jatuh sakit dan meninggal tak lama kemudian. Lin Wei, yang kini menjadi pewaris tahta, hidup dalam bayang-bayang kegagalan dan ketakutan. Aku? Aku hanya tersenyum tipis, seraya menyesap teh *Chrysanthemum* di taman terpencilku. Aku tidak melakukan apa pun. *TAKDIR* saja yang sepertinya punya cara tersendiri untuk menuntut keadilan. Apakah dendam ini cukup untuk mengobati luka hatiku, ataukah aku akan selamanya terjebak di antara cinta yang mati dan bara api yang tak pernah padam?
You Might Also Like: 5 Rahasia Tafsir Membunuh Bekantan

Share on Facebook