Oke, siap. Ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari Dracin berjudul 'Kau Memakai Cincin Dari Dia, Tapi Hatimu Masih Berdetak Untukku', dengan sentuhan yang kamu minta: **Lentera yang Nyaris Padam** Hujan menggigil Kota Tua, persis seperti *kenangan* yang kembali menyeruak di benakku setiap kali musim ini tiba. Delapan tahun. Delapan tahun sejak malam pengkhianatan itu, malam di mana bayangan kita berdua patah di bawah rembulan yang pucat. Di seberang sana, di balik jendela kafe remang-remang, dia duduk. Meiling. Anggun seperti dulu, namun dengan cincin bertahtakan berlian di jari manisnya. Cincin yang dia terima dari… *pria itu*. Cincin yang seharusnya menjadi milikku. Napasnya terhembus membentuk kabut di kaca. Dia tersenyum, sebuah senyum palsu yang sudah lama kurindukan. Dulu, senyum itu hanya untukku, hanya menerangi duniaku. Sekarang, senyum itu dipersembahkan untuk seseorang yang merebut segalanya. Lampu lentera di atas meja kami berkedip-kedip, cahayanya nyaris padam, seolah merasakan duka yang sama. Aku memesan teh hangat, aroma melati yang dulu selalu menenangkannya. Dulu, dia selalu meminum teh ini bersamaku, saling berbagi cerita, saling bertukar janji. *JANJI*. Kata itu bergaung getir di dalam hatiku. “Sudah lama sekali,” ucapnya, suaranya lirih di balik gemuruh hujan. “Delapan tahun,” jawabku singkat, menatap matanya. Mata yang dulu penuh cinta, kini hanya memancarkan kekosongan. Dia mengangguk, lalu menyesap tehnya. Keheningan kembali membungkus kami. Keheningan yang lebih berisik dari ribuan petir. Keheningan yang penuh dengan kata-kata yang tak terucapkan, luka yang tak terobati, dan dendam yang membara. “Kau bahagia?” tanyaku akhirnya, pertanyaanku menusuk atmosfer yang beku. Dia terdiam. Bayangan di wajahnya bergetar. Aku bisa melihat keraguan di matanya, *keraguan* yang menjadi bahan bakarku. “Aku… baik-baik saja,” jawabnya, lirih. Aku tertawa pelan, tawa tanpa kebahagiaan. “Baik-baik saja? Kau memakai cincin dari dia, Meiling. Cincin yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaanmu. Tapi… aku bisa melihatnya. *Hati itu masih berdetak untukku*. Bukan begitu?” Air matanya mulai menetes. Hujan di luar semakin deras, seolah ikut menangisi takdir kami. “Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya, suaranya tercekat. Aku mendekat, menatapnya tajam. “Melakukan apa? Bertanya tentang kebahagiaanmu? Atau… tentang KEBENARAN yang selama ini kau sembunyikan?” Dia menggeleng, mencoba menghindari tatapanku. Aku tersenyum miring. “Kau tahu, Meiling, selama delapan tahun ini, aku belajar banyak. Aku belajar bagaimana menyembunyikan rasa sakit, bagaimana berpura-pura bahagia, dan yang terpenting… bagaimana merencanakan *balas dendam*.” Lentera itu padam sepenuhnya. Ruangan menjadi gelap, hanya diterangi cahaya remang-remang dari luar. “Balas dendam? Balas dendam untuk apa?” tanyanya, ketakutan mulai merayapi wajahnya. Aku berbisik, “Untuk delapan tahun yang hilang, untuk cinta yang dikhianati, dan… untuk anak yang tidak pernah kau tahu *siapa ayahnya*.”
You Might Also Like: Sean Hannitys Top Picks Collection Of

Share on Facebook