## Aku Menulis Cerita Kita di Tempat yang Tak Bisa Ditemukan Sejarah Hujan abu berbisik lirih di langit kota kuno Xi'an, menyelimuti Tembok Kota dengan kabut melankolis. Di salah satu menara pengawas yang sepi, aku duduk termenung, memandang jauh ke arah cakrawala. Di tanganku tergenggam pena emas, siap menorehkan kata-kata yang takkan pernah ditemukan sejarah. Ini bukan sekadar cerita cinta, ini adalah ***EPISODE*** kebohongan. Dulu, di tempat inilah, di bawah naungan bulan purnama yang sama, kau berjanji padaku. Janji yang terucap dengan senyum seindah lukisan Dinasti Tang, senyum yang kini terasa seperti topeng menipu. Pelukanmu, yang dulu kurasa hangat dan melindungi, kini hanya kuingat sebagai dekapan beracun. Setiap sentuhan, setiap bisikan, kini menjelma menjadi belati yang menusuk relung hatiku. Kau, *Wang Jun*, pewaris tunggal keluarga Wang yang disegani, telah memilih jalannya sendiri. Jalannya yang bertabur intan permata dan kekuasaan, jalan yang **MEMINTAMU** untuk mengkhianati cintaku. Kau menikahi putri keluarga Zhang, demi memperkuat posisi dan mengamankan tahtamu. Aku? Aku hanya Mei Lan, seorang gadis biasa yang terjebak dalam pusaran cinta yang terlarang. Aku bukan putri bangsawan, bukan pula wanita yang memiliki kekuasaan. Aku hanyalah wanita yang *TERLALU* bodoh untuk percaya pada janjimu. Tapi, aku tidak menangis. Aku tidak menjerit. Aku tidak merendahkan diriku untuk memohon cintamu kembali. Aku, Mei Lan, akan membalasmu dengan caraku sendiri. Balas dendam yang takkan menumpahkan darah, tapi akan menghantuimu seumur hidup. Di atas kertas lontar, aku menuliskan kisah kita. Kisah cinta yang palsu, pengkhianatan yang menyakitkan, dan balas dendam yang **MANIS** sekaligus pahit. Aku menuliskan setiap detailnya, setiap kebohonganmu, setiap air mata yang kutahan. Aku menuliskan nama-nama dan tanggal-tanggal, memastikan bahwa kebenaran akan terungkap, meskipun hanya dibaca oleh angin. Aku akan menyebarkan cerita ini. Bukan melalui istana atau media sosial, tapi melalui bisikan para pedagang, melalui lagu-lagu para pengamen, melalui lukisan-lukisan jalanan. Perlahan tapi pasti, kebenaran akan merayap seperti racun, menggerogoti reputasimu, menghancurkan kepercayaan orang-orang padamu. Kau akan menyesal, Wang Jun. Bukan karena kehilangan aku, tapi karena kehilangan integritasmu. Kau akan menyesal karena memilih kekuasaan di atas cinta, karena memilih kepalsuan di atas kebenaran. Aku menggulung lontar itu, mengikatnya dengan benang sutra merah. Aku menyembunyikannya di antara batu-batu Tembok Kota, di tempat yang takkan pernah ditemukan oleh sejarawan manapun. Lalu, aku tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang akhirnya bebas dari kepalsuan. Aku meninggalkan menara pengawas itu, berjalan menjauh dari kota Xi'an, meninggalkan Wang Jun dengan penyesalannya yang abadi. Karena cinta dan dendam, ternyata, lahir dari tempat yang sama…
You Might Also Like: Cara Tabir Surya Non Nano Untuk Kulit

Share on Facebook