**Kau Menulis Puisi untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan** Di antara kabut pagi yang menyelimuti *Paviliun Bulan Purnama*, terukir namamu di setiap hela nafasku. Sebuah nama yang hanya boleh diucapkan dalam bisikan, sebuah kenangan yang *terlalu indah* untuk menjadi nyata. Kau, sang pujangga berhati dingin, hadir bagai mimpi di tengah musim semi yang abadi. Setiap pertemuan kita adalah lukisan yang belum selesai. Di taman terlarang, di mana pohon sakura menari mengikuti irama angin, kau membacakan puisi untukku. Bait demi bait meluncur dari bibirmu, bagai *melodi memabukkan* yang merayuku menuju jurang kerinduan. "Rembulan membisikkan namamu padaku, wahai Dewi Bunga," deklamasi suaramu, menggetarkan setiap serat jiwaku. "Dan setiap bintang adalah air mata yang jatuh karena kecantikanmu." Oh, kata-kata itu! Mereka bagai *jaring sutra* yang menjerat hatiku. Aku terbuai, terlena, percaya bahwa di balik mata elangmu tersembunyi samudra cinta yang tak bertepi. Namun, semakin dalam aku menyelami puisimu, semakin terasa *keanehan* yang menusuk kalbuku. Di antara metafora tentang burung merak dan bunga teratai, terselip kode rahasia, pesan tersembunyi yang tak kumengerti. Kau bercerita tentang taman yang hilang, tentang janji yang dilanggar, tentang pengkhianatan di bawah rembulan yang sama. Apakah semua ini hanya permainan? Apakah aku, Dewi Bunga, hanya boneka dalam drama yang kau sutradarai sendiri? Malam-malam berlalu bagai *lembaran mimpi* yang sobek. Aku mencoba mencari kebenaran di balik senyum misteriusmu, di balik tatapan yang bisa membakar jiwa. Namun, setiap kali aku mendekat, kau menghilang bagai bayangan di tengah malam. Dan tibalah malam pengungkapan. Di bawah *Bulan Darah*, di kuil yang dilupakan waktu, aku menemukan sebuah gulungan lontar. Di sana, dengan tinta yang nyaris pudar, tertulis sebuah perjanjian. Perjanjian antara kau dan seorang putri dari kerajaan yang telah lama runtuh. Perjanjian untuk mengkhianati cintaku, untuk mengorbankanku demi ambisimu sendiri. *Setiap bait puisi, setiap pujian, setiap tatapan mesra... adalah kebohongan*. Air mataku jatuh membasahi gulungan itu, memudarkan tinta yang sudah usang. Aku mengerti sekarang. Aku bukan Dewi Bunga yang kau cintai. Aku hanyalah alat, pion dalam permainan kekuasaanmu. Keindahan lukisan kita hancur berkeping-keping. Mimpi itu berubah menjadi *mimpi buruk* yang abadi. Luka di hatiku menganga lebar, mengalirkan darah kerinduan yang tak pernah bisa terobati. Tapi, di tengah kehancuran, ada satu kebenaran yang terungkap: Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku. *Dan di tengah reruntuhan Paviliun Bulan Purnama, aku mendengar bisikan yang lirih, 'Dia melakukannya demi...' *
You Might Also Like: Interpretasi Mimpi Dicakar Gurita Makna

Share on Facebook