Oke, ini dia: **Kau Memilih Tahta, Aku Memilih Luka** Malam itu, salju turun seperti pecahan mimpi. Di pelataran istana yang megah, merah darah tercetak jelas di atas putihnya salju, seperti kanvas tragedi yang baru saja selesai dilukis. Aroma dupa cendana bercampur dengan bau anyir logam, menciptakan simfoni kematian yang menyesakkan. Bulan purnama mengintip dari balik awan kelabu, saksi bisu sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan. Ling Xia, dengan jubah merah menyala yang kini ternoda darah, berdiri tegak di hadapan Kaisar Li Wei. Matanya, yang dulu memancarkan cinta dan pengabdian, kini hanya menyisakan bara api kebencian. Di tangannya tergenggam erat belati perak, satu-satunya warisan dari masa lalu yang mereka bagi. "Kau memilih tahta, *Li Wei*," bisik Ling Xia, suaranya serak dan nyaris tak terdengar di tengah deru angin. "Kau memilih kekuasaan, dan mengkhianati janjimu padaku." Li Wei, dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi, menatap Ling Xia. Di matanya, terlihat sekelebat kesedihan, namun dengan cepat ditutupi oleh lapisan baja kekuasaan. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk kerajaan," jawabnya, suaranya datar dan tanpa penyesalan. "Untuk kerajaan? Atau untuk *dirimu sendiri*?!" Ling Xia tertawa sinis, air mata membeku di pipinya. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau membunuh ayahku, menjebak keluargaku, semua demi menyingkirkan penghalang menuju tahta!" Rahasia lama yang selama ini terkubur dalam-dalam akhirnya terungkap. Kebencian dan dendam yang telah dipendam selama bertahun-tahun akhirnya menemukan jalannya keluar. Malam itu, di bawah rembulan yang dingin, janji-janji yang dulu terucap di atas abu perapian kini hanya menjadi debu yang bertebaran ditiup angin. Pertempuran pun pecah. Ling Xia, dengan gerakan lincah dan mematikan, menebas para pengawal kerajaan. Setiap sabetan belatinya adalah jeritan hati yang terluka, setiap tebasan adalah tangisan jiwa yang terkhianati. Li Wei hanya bisa menyaksikan, terpaku di tempatnya, saat Ling Xia perlahan mendekatinya. Akhirnya, Ling Xia berdiri tepat di hadapan Li Wei. Belati perak itu kini menempel di leher sang Kaisar. "Kau pikir kau bisa lolos dengan semua ini?" bisik Ling Xia, suaranya penuh dengan amarah yang dingin. "Kau pikir kau bisa menghancurkan hidupku dan tetap hidup bahagia di atas tahta?" Li Wei terdiam. Ia tahu, ini adalah akhir dari segalanya. Bukan akhir kerajaannya, bukan akhir kekuasaannya, melainkan akhir dirinya. Ia melihat pantulan dirinya di mata Ling Xia yang dipenuhi kebencian, dan menyadari betapa kejam dan egoisnya ia selama ini. Ling Xia menarik napas dalam-dalam. Air matanya berhenti mengalir. Tatapannya menjadi dingin dan kosong. "Ini balasan dari hati yang terlalu lama menunggu," bisiknya, sebelum akhirnya menggerakkan belatinya. *KEHENINGAN*. Ling Xia menjatuhkan belati itu ke salju. Ia berbalik, meninggalkan Li Wei yang tergeletak tak bernyawa di atas hamparan putih yang kini ternoda merah. Ia melangkah pergi, menuju kegelapan malam, meninggalkan istana yang penuh dengan intrik dan pengkhianatan. **Balas dendam telah ditunaikan.** Namun, hatinya tetap hampa. Luka itu terlalu dalam, dan tak akan pernah bisa disembuhkan. Ia tahu, ia telah kehilangan segalanya: cintanya, keluarganya, dan dirinya sendiri. *Bayangan seorang anak kecil tertawa di antara pepohonan sakura yang berguguran, namun tawa itu tak pernah mencapai telinga Ling Xia…*
You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Modal

Share on Facebook