**Langit yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama** Di antara kabut _PEKAT_ yang berbisik di Lembah Anggrek Terlarang, bersemayamlah kita. Bukan dalam dunia yang nyata, melainkan di antara _lukisan gulungan sutra_ yang terlupakan, di mana waktu melukiskan dirinya dalam wujud air mata. Aku, seorang pelukis bayangan, dan dia, seorang putri dari dinasti yang ditelan mimpi. Cintaku padanya, sehalus debu mutiara yang menempel di sayap kupu-kupu malam, *nyaris tak terlihat, nyaris tak terucapkan*. Bibirku, bagaikan kuntum teratai yang belum mekar, tak berani menyentuh hembusan angin istana. Hanya tatapan, curi-curi, di balik tirai bambu yang berayun, yang menjadi saksi bisu. Dia, bagaikan rembulan di atas telaga, memantulkan keanggunan yang melukai. Gaun sutranya bagaikan kabut pagi yang menyelimuti puncak gunung, *misterius dan rapuh*. Senyumnya, kilatan bintang jatuh yang hanya bisa kusaksikan dalam mimpi. Setiap sapuan kuas di atas kanvas, adalah doa yang kupanjatkan untuknya. Setiap warna yang kucampur, adalah harapan yang kurajut untuk masa depan yang _MUSTAHIL_. Dia adalah ilhamku, sumber air di tengah gurun kerinduanku. Namun, di balik tirai istana yang megah, mengintai bayangan pengkhianatan. *Raja, ayahandanya, telah menjanjikannya pada seorang jenderal perang*, demi memperkuat kekuasaan yang mulai rapuh. Malam itu, langit menangis. Hujan turun bagaikan air mata dewa-dewi yang menyaksikan tragedi. Aku, dengan keberanian yang dipinjam dari kegelapan, menyelinap ke taman istana. Di bawah naungan pohon sakura yang berguguran, kutemukan dia. *Dia tidak menangis, tetapi matanya memancarkan kesedihan yang lebih dalam dari lautan.* "Aku akan pergi," bisiknya, suaranya serak. "Besok pagi, aku akan menjadi milik orang lain." Duniaku runtuh. Istana yang selama ini hanya kukagumi dari kejauhan, berubah menjadi penjara baginya, dan kuburan bagi cintaku. Kemudian, di tengah reruntuhan hatiku, sebuah kebenaran **MEMENGGAL**. *Gulungan sutra yang selama ini kurawat, yang kubuat hanya untuknya, ternyata adalah surat wasiat.* Surat wasiat yang sengaja dia titipkan padaku, jauh sebelum pengkhianatan itu terjadi. Di dalamnya, tertulis: "Jika suatu saat nanti, cintaku dikhianati, bukalah gulungan ini. Di dalamnya, ada peta jalan menuju tempatku menunggu. Tempat di mana cinta kita bisa abadi, di luar jangkauan dunia fana." Air mataku jatuh membasahi gulungan itu. Kebenaran itu membebaskan, namun juga melukai. *Dia tahu. Dia tahu sebelum aku berani mengakui perasaanku*. Dia tahu akan datang hari pengkhianatan, dan dia telah mempersiapkan jalan keluar untuk kita. Lalu, mengapa dia tidak pernah mengatakannya? Mengapa dia membiarkanku memendam cinta dalam diam, membiarkan hatiku terbakar dalam penantian yang sia-sia? Kini, aku mengerti. Cinta kita, memang tak pernah nyata. Ia hanya bersemayam di dimensi mimpi, di antara lukisan-lukisan yang membisu, di sebuah lorong waktu yang terlarang. Namun, meski begitu, luka ini... *terasa begitu nyata.* Diakah yang menungguku di sana, di ujung jalan yang digambar dalam gulungan sutra? Atau inikah akhirnya, sebuah pengkhianatan yang sempurna, pengkhianatan pada diri sendiri, karena telah memercayai mimpi? _Angin malam membawa bisikan, 'Cintamu... hanyalah ilusi belaka.'_
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Produk Skincare

Share on Facebook