Baiklah, ini dia cerita pendek ala dracin yang kamu minta: **Judul: Aku Berjanji Melindungimu, Tapi Dunia Tak Membiarkan** Hujan gerimis menari di atap Paviliun Bulan, senada dengan alunan *guqin* yang lirih. Jari-jariku yang gemetar menari di atas senar, menciptakan melodi pilu yang hanya aku dan malam yang mengerti. Dulu, nada-nada ini adalah tawa, cinta, dan janji. Sekarang, hanya ada penyesalan dan air mata yang tak jatuh. "A-Li," bisikku, nama yang dulu kurapal dalam setiap hembusan napas. "Aku berjanji melindungimu." Lima tahun lalu, janji itu terucap di bawah pohon persik yang sedang bermekaran. A-Li, dengan senyum secerah mentari pagi, membalas janjiku dengan anggukan mantap. Kami adalah dua orang yang saling menggenggam erat, yakin bahwa dunia akan berpihak pada cinta kami. Tapi dunia, oh, dunia yang kejam, punya rencana lain. A-Li dituduh berkhianat. Matahari pagi yang dulu bersinar dalam senyumnya, meredup menjadi tatapan kosong yang penuh luka. Aku tahu dia tidak bersalah. Aku *TAHU*. Tapi aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Bukan karena aku takut. Tapi karena aku menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan bukan hanya diriku, tapi juga seluruh Klan Yan. Rahasia tentang *BENIH KEJAHATAN* yang ditanamkan di dalam tubuhku sejak lahir, sebuah kutukan yang hanya A-Li yang tahu cara menetralkannya. Jika aku membela A-Li, mereka akan tahu. Mereka akan menghancurkanku, dan Benih Kejahatan akan lepas, menenggelamkan dunia dalam kegelapan. A-Li diasingkan. Dicap sebagai pengkhianat. Aku melihatnya dibawa pergi, tanpa bisa melakukan apa pun selain memejamkan mata dan membiarkan air mata mengalir dalam diam. Lima tahun berlalu. Aku menjadi pemimpin Klan Yan, meneruskan tradisi dengan tangan yang berlumuran dosa. Aku memerintah dengan dingin dan efisien, membungkam semua pertanyaan, menolak semua cinta. Di balik topeng ketegasan, hatiku merana. Lalu, secarik surat tiba. Tanpa nama. Tanpa stempel. Hanya kata-kata yang dicetak dengan tinta merah darah: "Dia masih hidup. Dia tahu." Misteri itu perlahan menguat. *Siapa* yang mengirim surat itu? *Siapa* yang tahu tentang A-Li? Dan yang terpenting, *tahu apa*? Pencarianku membawaku kembali ke tempat pertama kali aku bertemu A-Li: pohon persik yang kini layu dan berlumuran lumut. Di bawahnya, tersembunyi di balik akar yang menjalar, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya, bukan surat. Bukan pula benda pusaka. Melainkan sebuah cermin. Sebuah cermin biasa. Atau begitulah yang kupikir, sampai aku menyentuhnya. Bayanganku di cermin memudar, digantikan oleh bayangan A-Li. Tapi bukan A-Li yang kukenal. Bayangan di cermin itu memancarkan aura gelap. Matanya menyala merah. Bibirnya menyeringai. "Kau salah, Yan," desis bayangan itu. "Aku tidak diasingkan. Aku *MENUNGGU*." Rahasia terungkap. Benih Kejahatan itu tidak hanya ada di dalam diriku. Ia juga ada di dalam diri A-Li. Bedanya, A-Li menerimanya. Ia membiarkannya tumbuh, menjadi senjata pamungkas untuk membalas dendam. A-Li tidak berkhianat pada Klan Yan. Dia berkhianat padaku. Dia membiarkan dirinya diasingkan, bukan untuk melindungi siapa pun, tapi untuk *MEMPOSISIKAN DIRINYA*. Balas dendam tanpa kekerasan? Tidak. Balas dendam ini *PERFECT*. A-Li tidak perlu membunuh siapa pun. Dia hanya perlu membiarkan Benih Kejahatan tumbuh di dalam diriku, sampai akhirnya menghancurkanku dari dalam. Takdir berbalik arah. Aku, yang berjanji melindunginya, justru menjadi pion dalam permainannya. Aku memejamkan mata. Menerima takdirku. Biarkan kegelapan menelanku. Tapi sebelum kegelapan sepenuhnya menguasai diriku, aku tersenyum. Karena aku tahu, meskipun A-Li berhasil membalas dendam, dia tidak akan pernah bisa benar-benar bahagia. Dia akan selalu dihantui oleh kenangan tentang cinta kami, tentang janji yang pernah kami ucapkan di bawah pohon persik yang sedang bermekaran. Dia akan selalu mengingatku, dan penyesalan itu... ...akan menjadi hukuman yang jauh lebih berat daripada kematian.
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Dengan

Share on Facebook