Oke, siap. Mari kita mulai drama absurd ini: **Aku Menatap Dunia Hancur, Tapi Cintaku Tetap Utuh** Dunia berderit. Bukan derit pintu tua atau ranjang reyot, tapi *derit tulang* semesta. Sinyal Wi-Fi tinggal kenangan, sehangat abu rokok di asbak pinggir jalan. Chatku ke Lin terhenti di 'sedang mengetik...' selama entah berapa zaman. Langit menolak pagi, memilih jingga senja abadi yang menyesakkan dada. Aku, Ren, menggali masa lalu. Bukan arkeolog, hanya *pecinta* yang tersesat di reruntuhan kenangan. Aku memungut potongan-potongan fotonya dari debu, mencoba menyusun senyum Lin yang dulu, yang *pernah* nyata. Suaranya terngiang di rekaman kaset rusak, seperti bisikan hantu di tengah badai pasir. Sementara itu, Lin... Dia melayang di masa depan yang dingin. Gedung-gedung menjulang bagai nisan raksasa, memantulkan cahaya neon yang menusuk mata. Dia mengirim pesan lewat frekuensi yang bahkan belum ditemukan saat aku masih bernapas. Pesannya sampai padaku sebagai deru statis, getaran aneh di gigi, bisikan angin yang merobek sunyi. "Ren, apakah kau *mendengar*?" bisiknya, dari jarak yang tak terukur. "Waktu tak lagi linier. Aku di sini, di depanmu, sekaligus di belakangmu. Dunia yang kau lihat, hanyalah cermin *pecah*." Kami berdua saling mencari, bagai dua potongan puzzle yang salah tempat. Aku mencari hangatnya tawanya di tengah reruntuhan. Dia mencari bayanganku di antara menara-menara baja. Cinta ini, bagai komet yang menabrak lubang hitam, *menolak* logika. Suatu malam—atau mungkin subuh, atau mungkin bukan keduanya—aku menemukan *kebenaran*. Bukan dalam sinyal yang pulih, bukan dalam pesan yang akhirnya terkirim. Kebenaran itu berbisik dari balik lapisan waktu yang retak. Lin, di masa depannya, bukanlah orang asing. Dia adalah *aku* yang bereinkarnasi. Dan aku, di masa lalu ini, adalah gema dari dirinya yang tak pernah benar-benar pergi. Cinta kami bukan kisah baru, melainkan *lingkaran* yang abadi. Kami adalah satu jiwa yang terbelah, menari di atas reruntuhan dunia, takdir yang tak bisa dihindari. Lalu, langit benar-benar runtuh. Semua menjadi putih, kemudian hitam. *Apakah kau masih di sana, Ren?*
You Might Also Like: Tafsir Diserang Kambing Simak

Share on Facebook