Oke, inilah cerita pendek bergaya *dracin* dengan sentuhan lirih dan penuh penyesalan, berjudul "Bayangan yang Menyentuh Cahaya Terakhir": **Bayangan yang Menyentuh Cahaya Terakhir** Malam itu, guqin di Paviliun Anggrek melantunkan nada-nada pilu. Di bawah rembulan pucat, Ling Yue berdiri mematung, gaun sutranya berkibar tertiup angin malam. Lima tahun. Lima tahun ia menyembunyikan pengkhianatan itu, menelannya bulat-bulat bagai racun. Pengkhianatan dari Li Wei, cinta pertamanya, tunangannya, sahabatnya. Li Wei, kini Jenderal Agung yang namanya harum di seluruh negeri. Li Wei, yang merebut posisinya sebagai pewaris tunggal keluarga Ling dengan cara yang *KEJI*. Orang-orang mengira Ling Yue lemah, hancur karena ditinggalkan. Mereka salah. Kelemahannya adalah topeng. Rahasia yang ia genggam lebih berharga dari tahta, lebih kuat dari pedang. Rahasia tentang garis keturunan *ASLI* keluarga kekaisaran. Li Wei, dengan ambisinya yang membara, tidak tahu bahwa ia sedang menari di atas bara api. Dulu, Ling Yue mencintai Li Wei dengan segenap jiwa. Kini, yang tersisa hanyalah *KEHAMPAN* yang menganga. Ia tahu, membalas dendam dengan pedang hanya akan membuatnya setara dengan Li Wei. Balas dendamnya harus lebih halus, lebih mematikan. Balas dendam yang menggerogoti dari dalam. Beberapa tahun lalu, sebelum pengkhianatan itu terjadi, Ling Yue menemukan sebuah gulungan kuno di ruang terlarang perpustakaan keluarga. Gulungan itu berisi ramalan tentang *KEJATUHAN* dinasti saat ini, yang dipicu oleh seorang pengkhianat dari kalangan bangsawan. Pengkhianat itu akan merebut tahta dengan darah dan air mata, namun pada akhirnya, takdir akan berbalik arah. Ling Yue menyadari, pengkhianat itu adalah Li Wei. Sejak saat itu, ia mulai menyusun rencana. Ia menggunakan kekayaannya yang tersisa untuk mendukung keluarga-keluarga bangsawan yang terpinggirkan, menanamkan benih-benih ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Li Wei. Ia memastikan informasi penting sampai ke telinga para jenderal yang setia pada kaisar terdahulu. Ia bahkan menyebarkan desas-desus tentang asal-usul Li Wei yang *MERAGUKAN*. Malam ini, semuanya akan mencapai puncaknya. Sebuah laporan datang dari utara: pasukan barbar menyerbu perbatasan. Li Wei, dengan ambisinya untuk membuktikan diri, memimpin pasukan ke medan perang. Ling Yue tersenyum tipis. Ia tahu, di balik layar, musuh telah disuap untuk mengkhianati Li Wei. Berita tentang kekalahan memilukan Li Wei menyebar dengan cepat. Para bangsawan yang selama ini tertekan, mulai memberontak. Rakyat jelata, yang selama ini tercekik oleh pajak tinggi, ikut turun ke jalan. Kekaisaran Li Wei runtuh seperti istana pasir diterjang ombak. Li Wei, yang dulu diagung-agungkan, kini menjadi buronan. Ia lari tunggang langgang, dikejar oleh bayangan masa lalunya. Ia tidak tahu, Ling Yue-lah yang mengendalikan bayangan itu. Ling Yue tidak pernah menyentuh sehelai rambut pun di kepala Li Wei. Ia hanya membiarkan takdir memainkan perannya. Li Wei mati bukan karena pedang, tapi karena *KEGILAAN* dan *PENYESALAN*. Ia tewas di pengasingan, seorang diri, tanpa ada yang meratapinya. Ling Yue kembali ke Paviliun Anggrek. Guqin masih melantunkan nada-nada pilu. Ia menatap rembulan, lalu berbisik, "Aku telah membalas dendam, namun mengapa hatiku terasa begitu…kosong?" Lima tahun berlalu. Kekaisaran telah pulih di bawah kepemimpinan seorang kaisar yang adil. Ling Yue hidup tenang di pengasingan, merawat kebun bunganya. Suatu sore, seorang utusan kekaisaran datang membawa sebuah kotak. Di dalamnya, terbaring sebuah gulungan kuno. Gulungan yang sama yang dulu ia temukan. Namun, kali ini, ada catatan tersembunyi di balik gulungan itu. Sebuah catatan yang ditulis dengan tinta merah, yang hanya bisa dilihat dengan cahaya matahari terbenam. Catatan itu berbunyi: "Kau tidak tahu *SEBENARNYA* siapa dirimu, bukan?" Ling Yue menatap matahari yang mulai tenggelam, sebuah pertanyaan besar membayang di matanya, pertanda bahwa takdir belum selesai menari bersamanya...
You Might Also Like: Diskon Skincare Lokal Berkualitas
Share on Facebook