Tentu, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Air Mata yang Menyambut Balas Dendam** Hujan gerimis menyambut kedatanganku di kediaman keluarga Li. Dulu, tempat ini adalah surga, dipenuhi tawa dan aroma mawar yang kurawat sendiri. Sekarang, hanya ada kesunyian yang menyesakkan, seolah semua kenangan indah itu telah dicuri. Enam tahun lalu, aku, Lin Mei, gadis yatim piatu, bertemu dengan Li Wei, pewaris tunggal Li Corporation. Cinta kami mekar bagai bunga plum di musim semi—indah dan tak terduga. *Senyumnya* bagaikan mentari pagi, *pelukannya* terasa begitu aman. Ia berjanji akan melindungiku selamanya, janji yang kini terasa bagai **BELATI** yang menghujam jantungku. Li Wei menikahi wanita lain. Bukan karena paksaan keluarga, bukan karena perbedaan status sosial. Ia melakukannya karena *ambisi*. Ia membutuhkan koneksi keluarga Shen untuk menyelamatkan perusahaannya yang hampir bangkrut. Aku menyaksikan pernikahan itu dari kejauhan, menyembunyikan air mata di balik selendang sutra. Rasa sakit ini, pengkhianatan ini, terasa seperti racun yang menjalar di nadiku. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak berteriak. Aku hanya menarik napas dalam-dalam dan berjanji pada diriku sendiri: ia akan menyesal. Waktu berlalu. Aku bekerja keras, belajar tanpa henti, dan mengubah diriku menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Aku tidak lagi Lin Mei yang polos. Aku adalah Lin Mei yang bertekad. Perusahaan Li Wei semakin jaya berkat koneksi Shen. Tapi aku tahu, dibalik gemerlap itu, ada kerapuhan. Aku mulai menyusun rencanaku, bukan untuk menghancurkannya secara fisik, tapi untuk menghancurkan *jiwanya*. Aku mendekati keluarga Shen, memenangkan hati mereka dengan kecerdasan dan pesonaku. Aku menjadi penasihat terpercaya, tangan kanan yang tak tergantikan. Tanpa mereka sadari, aku perlahan mengarahkan mereka menjauhi Li Corporation, menanamkan keraguan dan kecurigaan. Butuh waktu, tapi akhirnya tiba saatnya. Keluarga Shen menarik semua investasi mereka. Li Corporation terhuyung-huyung, di ambang kehancuran. Li Wei mencariku, putus asa dan menyesal. “Lin Mei… kenapa?” tanyanya, matanya memancarkan kepedihan. Aku tersenyum, senyum yang dulu begitu tulus, kini terasa begitu dingin. “Kau bertanya kenapa? Kau mengambil segalanya dariku, Li Wei. Sekarang giliranmu.” Aku tidak mengambil hartanya. Aku tidak membuatnya bangkrut total. Aku hanya membuatnya kehilangan segalanya yang ia perjuangkan dengan mengkhianati cintaku. Aku membuatnya hidup dengan penyesalan, dengan bayang-bayang masa lalu yang selalu menghantuinya. Malam itu, aku berdiri di balkon, merasakan hujan yang sama seperti enam tahun lalu. Air mata mengalir di pipiku, bukan karena sakit, tapi karena kemenangan yang terasa *pahit*. Aku telah membalas dendam. Tapi hatiku tetap kosong. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama. Sekarang, aku bertanya-tanya, apakah aku telah membunuh diriku sendiri bersama dengan cintaku padanya?
You Might Also Like: 109 Famke Janssen In Goldeneye El Culto

Share on Facebook