Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi': **Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi** Lorong istana bagai mulut naga yang menganga, sunyi mencengkam. Cahaya rembulan nyaris tak mampu menembus debu yang menari-nari di udara. Di ujung lorong, seorang pria berdiri. Wajahnya pucat, dibingkai rambut hitam legam yang menjuntai melewati bahu. Matanya, setajam belati, menatap lurus ke depan. Ini adalah Li Wei, *yang seharusnya sudah lama mati*. Dua belas tahun lalu, ia dinyatakan tewas dalam kebakaran yang melanda kediaman keluarga Wu. Keluarga yang kini dipimpin oleh Wu Chen, sahabat sekaligus tunangannya. Wu Chen, yang kini berdiri di hadapannya, raut wajahnya bercampur antara keterkejutan dan kebingungan. "Li Wei? *Mustahil*," bisik Wu Chen, suaranya bergetar bagai daun yang diterpa angin musim gugur. Li Wei tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. "Apakah kau merindukanku, Chen?" "Ke-kenapa… kenapa kau kembali?" Wu Chen mundur selangkah, matanya berkilat panik. "Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," jawab Li Wei, suaranya selembut sutra namun setajam sembilu. Ia melangkah maju, mendekati Wu Chen yang semakin terpojok. "Keluarga Wu, kekuasaan, *semuanya*." Kabut tebal menyelimuti pegunungan di luar istana. Suara burung hantu memecah kesunyian malam. Pertemuan ini, yang seharusnya menjadi reuni mengharukan, justru terasa seperti pengadilan akhirat. "Kau tahu, Chen," lanjut Li Wei, nadanya berubah menjadi bisikan yang mematikan. "Kebakaran itu… bukanlah kecelakaan." Wu Chen terperanjat. "Apa maksudmu?!" Li Wei berhenti tepat di hadapan Wu Chen. Matanya menatap dalam, menembus topeng kepolosan yang selama ini dikenakan sahabatnya. "Kau selalu menginginkan semuanya, bukan? Kekayaan, kekuasaan… bahkan *tunanganku*." Wu Chen menunduk, bahunya bergetar. "Aku… aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Li Wei tertawa, tawa tanpa kebahagiaan. "Kau berbohong dengan sangat baik, Chen. Aku hampir mempercayainya. Tapi sayang sekali, aku punya bukti. Surat wasiat yang kau kira sudah kau bakar habis. Kesaksian para pelayan yang kau bungkam dengan uang." "Aku…" Wu Chen mengangkat wajahnya. Di matanya, bukan lagi kepanikan yang terpancar, melainkan *kemenangan*. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Kau terlalu percaya diri, Li Wei," ujarnya, suaranya tiba-tiba berubah menjadi tenang dan dingin. "Kau pikir kau bisa kembali dan mengambil semuanya? Kau salah. Kebakaran itu memang bukan kecelakaan. Tapi bukan aku yang merencanakannya." Li Wei tertegun. "Apa?!" Wu Chen tertawa. "Kau pikir aku yang menginginkan kekayaan? Aku hanya pion. Pion dalam permainan yang *lebih besar*. Permainan yang kau sendiri mulai." Ia mendekat ke telinga Li Wei dan berbisik, "Kau yang membangun kerajaanku, Li Wei. Dan sekarang, aku akan menikmatinya." Li Wei mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Kebenaran menamparnya dengan keras. Selama ini, ia dibutakan oleh dendam. Ia mengira dirinya adalah korban, padahal ia hanyalah alat. Wu Chen, *sahabatnya sendiri*, telah memanfaatkannya sejak awal. Wu Chen tersenyum. "Selamat datang kembali, Li Wei. Tapi maaf, tempatmu bukan di sini. Kau hanyalah… *bayangan* yang tak pernah benar-benar pergi. Dan bayangan, *tidak bisa memiliki apa-apa*."
You Might Also Like: New Microsoft Teams Client Adds Taskbar

Share on Facebook