Baiklah, inilah kisah pendek "Kau Tersenyum Tanpa Tahu Setiap Senyummu Menusuk Balik" dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Kau Tersenyum Tanpa Tahu Setiap Senyummu Menusuk Balik** Debu berterbangan di antara lembaran-lembaran usang Kitab Peramalan. Mei Hua, nama barunya, mencium aroma cendana dan *kehancuran*. Aroma yang sama yang menghantuinya dalam mimpi-mimpi yang terasa lebih nyata dari mentari pagi. Mimpi tentang istana megah, jubah sutra merah darah, dan seorang pria. Pria itu… senyumnya. Senyum itu terasa seperti belati yang dilapisi madu. Di kehidupan ini, Mei Hua adalah seorang peramal jalanan di pasar terpencil, jauh dari kemewahan dan intrik istana. Namun, ingatan itu perlahan menggerogoti dinding pertahanannya. Potongan-potongan teka-teki masa lalu mulai menyatu saat ia melihat wajah-wajah yang *familiar* di antara kerumunan. Suatu hari, seorang pria mendekat. Pakaiannya sederhana, namun matanya… mata itu memancarkan aura kekuasaan. Ia memperkenalkan diri sebagai Li Wei. *Li Wei*. Nama itu bergema dalam benaknya, membawa serta rasa sakit yang *AMAT SANGAT* familiar. "Nona Mei Hua, aku ingin tahu tentang takdirku," ucapnya, senyumnya merekah. Senyum yang sama. Senyum yang MENUSUK. Mei Hua menatapnya, jiwanya bergejolak. Li Wei. Kaisar yang ia cintai, kaisar yang memerintah dengan tangan besi, kaisar yang… mengkhianatinya demi kekuasaan. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Permaisuri Lian, wanita yang dicintai dan kemudian DITUMBALKAN. "Takdirmu… rumit, Tuan Li Wei," jawab Mei Hua, suaranya tenang meski hatinya bergemuruh badai. "Kau akan mencapai puncak kejayaan, namun jalanmu dipenuhi pengorbanan. Pengorbanan yang akan kau sesali selamanya." Li Wei tertawa kecil. "Pengorbanan? Semua orang berkorban untuk kekuasaan, Nona Mei Hua. Itu adalah hukum alam." Mei Hua terdiam. Inilah balas dendamnya. Bukan dengan pedang, bukan dengan racun, melainkan dengan *pilihan*. Ia bisa saja memberinya ramalan yang membantunya meraih kejayaan tanpa akhir. Namun, ia memilih untuk meninggalkan celah. Sebuah keraguan. Sebuah bayangan masa lalu yang akan menghantuinya, selamanya. "Kau akan bertemu dengan seorang wanita," lanjut Mei Hua, tatapannya menembus kedalaman jiwa Li Wei. "Wanita yang akan membawamu ke puncak, namun juga akan menjadi alasan kehancuranmu." Ia sengaja tidak menyebutkan nama. Biarkan ketakutan itu merayapi setiap langkahnya. Li Wei tampak sedikit terganggu, namun ia tetap membayar Mei Hua dan pergi. Mei Hua menatap punggungnya yang menjauh. Ia telah mengubah takdirnya. Dengan *satu* ramalan. Di malam itu, Mei Hua duduk di bawah rembulan, memeluk kitab peramalannya. Angin berbisik, membawa aroma cendana dan janji yang belum terpenuhi. *Mungkin… di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi… dan aku akan benar-benar mengingat semuanya.*
You Might Also Like: Dhurandhar 2 Bo Tusar Das Biography

Share on Facebook