Baiklah, inilah kisah dracin tragis berjudul "Aku Mencintaimu dengan Kebodohan, Tapi Kebodohan Itu Terasa Suci" dalam gaya yang Anda minta: **Aku Mencintaimu dengan Kebodohan, Tapi Kebodohan Itu Terasa Suci** Hujan abu melukis langit Kota Terlarang dengan warna kelabu yang suram. Di tengah labirin istana, dua siluet beradu – Lin Wei dan Zhao Yi, dua pangeran yang tumbuh bersama bagai akar kembar pohon purba. Mereka saudara angkat, teman sepermainan, sekutu dalam intrik istana yang licik. Atau setidaknya, itulah yang Lin Wei percayai. "Zhao Yi, lukisan ini... indah sekali," ujar Lin Wei, mengagumi sapuan kuas yang menggambarkan bunga plum di tengah badai salju. "Kau selalu pandai menyembunyikan perasaanmu di balik seni." Zhao Yi tersenyum tipis, senyum yang tak pernah mencapai matanya. "Perasaan? Bukankah di istana ini, perasaan adalah kelemahan, *Wei*?" Lin Wei terdiam. Kata-kata Zhao Yi terasa seperti duri yang tak terlihat, menusuk relung hatinya. Mereka telah bersama sejak kecil, melewati malam-malam dingin di bawah langit bintang, saling berbagi mimpi dan ketakutan. Tapi akhir-akhir ini, ada jarak yang tumbuh di antara mereka, setebal tembok istana yang menjulang tinggi. Rahasia demi rahasia mulai terkuak. Bisikan-bisikan pengkhianatan berdesir di telinga Lin Wei. Ada yang bilang, Zhao Yi diam-diam bersekongkol dengan faksi musuh, mengincar tahta yang seharusnya menjadi milik Lin Wei. "Itu tidak mungkin!" Lin Wei menolak mempercayainya. "Zhao Yi adalah saudaraku. Dia tidak akan mengkhianatiku." Namun, bukti demi bukti terus bermunculan, menunjuk ke satu arah: Zhao Yi. Surat-surat rahasia, pertemuan tersembunyi, dan saksi yang bersumpah melihat Zhao Yi bersekutu dengan musuh. Suatu malam, Lin Wei memberanikan diri menghadapi Zhao Yi. Mereka bertemu di paviliun bulan, tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama. "Zhao Yi," kata Lin Wei, suaranya bergetar. "Katakan padaku, apa semua ini benar? Apa kau... mengkhianatiku?" Zhao Yi menatapnya dengan tatapan sedingin es. "Pengkhianatan? Bukankah kau yang sejak awal sudah menempatkanku di posisi ini, Wei? Kau selalu menjadi pewaris, dan aku... hanya bayanganmu." "Tapi aku tidak pernah memandangmu seperti itu! Kau adalah saudaraku!" teriak Lin Wei, hatinya hancur berkeping-keping. "Saudara? Kata-kata manis yang kosong! Tahukah kau, *Wei*, bahwa aku adalah anak haram Kaisar? Ayahmu merebut ibuku, dan kau... kau mewarisi semua yang seharusnya menjadi milikku!" Pengakuan itu menghantam Lin Wei bagai palu godam. Rahasia itu, rahasia yang telah lama tersembunyi, akhirnya terungkap. Zhao Yi bukan hanya sekadar saudara angkat, dia adalah... *saudara tiri*, korban dari intrik istana yang kejam. "Semua cinta dan kesetiaan yang kuberikan padamu, *Wei*, hanyalah kebodohan yang terasa suci. Tapi sekarang... kebodohan itu akan kubayar dengan DARAH!" Malam itu, paviliun bulan menjadi saksi bisu pertumpahan darah. Lin Wei dan Zhao Yi bertarung habis-habisan, pedang mereka berdenting seperti ratapan kematian. Dendam membara di mata Zhao Yi, sementara kesedihan meremukkan hati Lin Wei. Di akhir pertarungan, Lin Wei berdiri di atas tubuh Zhao Yi yang terkapar. Pedangnya berlumuran darah. Air mata mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Zhao Yi," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Maafkan kebodohanku. Maafkan... *ayah*." Lin Wei berlutut, menatap langit abu-abu yang suram. Kebenaran telah terungkap, namun kedamaian tak kunjung datang. Balas dendam telah terlaksana, namun hatinya tetap hancur. "Aku mencintaimu, Zhao Yi, bahkan setelah semua ini..."
You Might Also Like: Climates Impact On Disease

Share on Facebook