**Kau Tersenyum dalam Kabut, Tapi Aku Tahu Kau Bukan Lagi Manusia** Kabut tebal menyelimuti Danau Bulan, sama pekatnya dengan kepedihan yang menggerogoti hatiku. Dulu, di tempat ini, di bawah rembulan yang sama, kita berjanji. Janji sehidup semati, janji tak akan pernah saling meninggalkan. *Bodohnya aku*. Dulu, senyummu adalah matahariku. Cahayanya menghangatkan jiwa yang beku. Sekarang? Senyum itu hanya ilusi, topeng dari es yang membeku. Kau berdiri di sana, siluetmu memudar di antara kabut, namun matamu… mata itu mengkhianati segalanya. Mata yang dulu penuh cinta, kini hanya memancarkan kekosongan. "Lian," bisikku, suara serak tertahan di tenggorokan. Namamu terasa seperti pecahan kaca yang menyayat lidahku. Kau berbalik, senyum tipis bermain di bibirmu. Senyum yang dulu membuatku tergila-gila, kini membuatku *muak*. "Yun," balasanmu lirih. Suaramu tidak lagi memiliki nada yang dulu kurindukan. Hambar, dingin, asing. "Kau… kau berubah." Kau tertawa kecil, suara yang membuat bulu kudukku meremang. "Memang. Manusia memang berubah, Yun. Terutama setelah melewati jurang bernama **PENGKHIANATAN**." Kata-kata itu menghantamku bagai gelombang tsunami. Pengkhianatan? Akulah yang dikhianati! Kau berjanji akan melindungiku, namun kau justru menikamku dari belakang, *menyerahkan nyawaku* demi kekuasaan dan keabadian yang kau idam-idamkan. "Aku… aku tidak mengerti," ucapku, berbohong. Tentu saja aku mengerti. Aku mengerti bahwa cintamu adalah dusta, pengorbananku adalah sia-sia. Aku mengerti bahwa kau kini adalah makhluk abadi, **monster** yang mengenakan wajah kekasihku. "Tidak perlu mengerti," sahutmu, melangkah mendekat. Kabut berputar di sekelilingmu, menyembunyikan wujudmu yang sebenarnya. "Yang perlu kau tahu, Yun, aku **bebas** sekarang." Bebas? Bebas dari janji, bebas dari cinta, bebas dari *aku*? Aku menatapmu, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Bukan karena sedih. Bukan karena cinta. Tapi karena amarah yang membara, dendam yang memanggil. Kau meraih tanganku. Sentuhanmu dingin, sekeras batu. Tidak ada kehangatan, tidak ada cinta. Hanya kehampaan yang membekukan. "Kau tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan sejati dengan cara ini, Lian," bisikku, menahan getaran di suaraku. Kau tersenyum lagi, senyum *palsu* itu. "Kebahagiaan? Siapa yang peduli dengan kebahagiaan? Aku hanya menginginkan **KEKUASAAN**." Kau salah, Lian. Kekuasaan tidak akan pernah bisa membeli ketenangan jiwa. Kekuasaanmu hanyalah ilusi. Kemudian, dari balik kabut, muncul sosok-sosok berjubah hitam. Para penjaga Danau Bulan, para pelindung keseimbangan. Mereka tidak pernah mencampuri urusan manusia, *kecuali jika keseimbangan terancam*. Mereka datang bukan karena perintahku. Mereka datang karena *kau* telah melanggar hukum alam. Mereka datang karena kau bukan lagi manusia. Mereka datang karena *takdir* telah menuliskan pembalasanmu. Kau menatap mereka dengan kaget, mata terbelalak. "Apa… apa yang terjadi?!" Para penjaga itu tidak menjawab. Mereka hanya mengangkat tangan, mantra kuno mengalun di udara. Kabut semakin pekat, cahaya rembulan tertutup sepenuhnya. Hanya suara jeritanmu yang memecah keheningan. Aku terdiam, menyaksikan semuanya. Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Hanya rasa… lega. Kabut perlahan menghilang. Danau Bulan kembali tenang. Para penjaga menghilang, seolah tak pernah ada. Hanya aku yang tersisa, berdiri di tepi danau, menatap bayanganku sendiri. Kau telah membayar harga pengkhianatanmu, Lian. Tapi entah mengapa, kemenangan ini terasa pahit. Aku telah kehilanganmu, selamanya. _Apakah ini akhir dari cinta kita, atau awal dari dendam yang tak berkesudahan?_
You Might Also Like: Jualan Skincare Peluang Usaha Ibu Rumah

Share on Facebook