**Pelukan yang Tersisa di Dalam Mimpi** Jing Wei membuka matanya. Cahaya mentari pagi menembus tirai sutra, membelai wajahnya yang pucat. Kamarnya, dipenuhi aroma cendana dan lukisan kaligrafi, terasa asing sekaligus familiar. Ia adalah Jing Wei, putri seorang pengusaha kaya raya di Shanghai modern. Namun, di dalam mimpinya… ia adalah Lian, seorang selir kesayangan Kaisar di Dinasti Tang. Setiap malam, mimpinya kembali. Istana megah, taman lotus yang bermekaran, dan suara seruling bambu yang memilukan. Ia ingat tawa riang Kaisar padanya, ingat janji cinta abadi di bawah rembulan. Ia juga ingat *tikaman* di punggungnya. Di kehidupan ini, Jing Wei merasa **hantu** masa lalu terus membayanginya. Ia sering melamun, menatap lukisan-lukisan kuno dengan tatapan kosong. Ia merasa *kehilangan*, sesuatu yang amat berharga telah direnggut darinya. Suatu hari, di sebuah acara amal, ia bertemu dengan seorang pria bernama Li Wei. Ia adalah CEO muda yang sukses, dengan senyum mempesona dan mata yang hangat. Tetapi… Jing Wei merasakan **denyut** aneh di dadanya. Senyum itu…mata itu… ia mengenalnya. Terlalu familiar. Mimpi-mimpinya semakin intens. Fragmen-fragmen masa lalu bermunculan, seperti kepingan mozaik yang disusun kembali. Ia ingat Lian, selir kesayangan Kaisar, yang menyimpan rahasia negara. Ia ingat percakapan lirih di taman rahasia, janji setia yang dilanggar. Li Wei mendekatinya. Ia membawakan bunga, makan malam romantis, dan berjanji untuk melindunginya. Jing Wei terpikat, tetapi ia tak bisa mengabaikan bisikan di dalam hatinya. Ia mulai menyelidiki sejarah Dinasti Tang, mencari catatan tentang Kaisar dan selirnya. Akhirnya, ia menemukan sebuah dokumen kuno. Tertulis di sana, nama Lian, dan nama *pengkhianat* yang membocorkan rahasianya: **Wei Zhong**. Jing Wei menggigil. Li Wei… Wei… **Wei Zhong**! Semua menjadi jelas. Li Wei adalah reinkarnasi Wei Zhong, pengkhianat yang membunuh Lian di kehidupan sebelumnya. Dendam bersemi di hatinya, bukan dalam bentuk kemarahan membabi buta, tetapi sebuah ketenangan yang menakutkan. Li Wei melamarnya. Di hadapan semua orang, Jing Wei tersenyum manis dan menerima cincin itu. “Aku menerimanya,” bisiknya, “karena aku ingin bersamamu *selamanya*.” Namun, diam-diam, ia menjual seluruh saham perusahaan ayahnya kepada kompetitor Li Wei. Tindakan itu akan menghancurkan karier Li Wei, merenggut seluruh kekayaannya, dan menjadikannya miskin papa. Balas dendam yang halus, namun menghancurkan. Saat Li Wei berlutut, memohon cintanya, Jing Wei menatapnya dengan dingin. "Aku tahu siapa dirimu sebenarnya, Wei Zhong. Sekarang, rasakan sendiri kehilangan dan kehancuran yang kurasakan dulu." Ia meninggalkan Li Wei yang terpaku, hancur di tengah kerumunan. Malam itu, saat ia terlelap, ia bermimpi tentang Lian, yang tersenyum lega. Di bawah rembulan pucat, bisikan itu terdengar, "Kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain…"
You Might Also Like: Pink Multi Layered Ruffle Cardigan Lace

Share on Facebook