## Ia Mencintaiku Seperti Menyentuh Api — Hangat, Tapi Mematikan Hujan mengguyur Kota Terlarang, membasahi jubah sutraku dan menyamarkan air mata yang sudah lama kering di pipiku. Dua puluh tahun. Dua puluh tahun sejak aku terakhir kali melihatnya. Dua puluh tahun sejak ia berjanji akan kembali. Li Wei. Aku masih ingat sentuhannya. Seperti api. *HANGAT*, tapi membakar habis hatiku. Ia adalah matahariku, terlarang namun menyinari setiap sudut gelap dalam diriku. Dan aku? Aku hanyalah bayangan yang terlalu lama terbuai dalam kehangatan semu itu. Dulu, di bawah pohon persik yang mekar, ia berbisik, "Aku akan kembali, Xiao Zhen. Walau dunia menentang, walau badai menghadang, aku akan kembali padamu." Jari-jarinya menggenggam erat tanganku, seolah ingin menanamkan janji itu di dalam tulangku. Namun, dunia memang menentang. Badai benar-benar menghadang. Dan Li Wei... *IA TIDAK PERNAH KEMBALI*. Aku mendengar kabar tentang pernikahannya dengan putri jenderal. Aku mendengar tentang kenaikan pangkatnya, tentang kesetiaannya pada kerajaan. Aku mendengar segalanya, kecuali tentang dirinya yang merindukanku. Kini, ia berdiri di hadapanku, di tengah halaman istana yang basah. Seragam kebesarannya berkilauan di bawah kilat petir. Wajahnya lebih dewasa, lebih keras. Tatapannya… tatapan itu kosong. Tanpa jejak api yang dulu pernah membakarku. "Xiao Zhen," bisiknya, suaranya serak, "Sudah lama." "Sudah cukup lama untuk membunuh harapan," balasku, suaraku dingin, setajam es di musim dingin. Ia menunduk. Penyesalan terpancar dari setiap kerutan di wajahnya. Ia ingin menyentuhku, aku tahu itu. Tapi ia tidak berani. Api yang dulu membara di antara kami kini hanya tinggal abu. "Aku… aku tidak punya pilihan," lirihnya. *PILIHAN*. Kata itu bergaung di kepalaku, merobek kembali luka lama. Ia *selalu* punya pilihan. Ia hanya memilih untuk tidak memilihku. "Pilihan adalah ilusi yang diciptakan oleh ketakutan, Li Wei," kataku, menatap langsung ke matanya. "Dan kau, terlalu takut untuk mencintaiku." Detik-detik berlalu. Hujan semakin deras. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh. Bukan hanya gemuruh petir, tapi juga gemuruh pemberontakan. Pemberontakan yang aku biayai. Pemberontakan yang akan menumbangkan dinastinya. Pemberontakan yang akan membuatnya kehilangan segalanya. Ia tidak tahu, tentu saja. Ia tidak tahu bahwa bibit dendam telah lama aku tanam, disirami dengan air mata dan dikukuhkan dengan kesepian. Ia tidak tahu bahwa senyum terakhirku, yang ku berikan sebelum berbalik dan berjalan menjauh, adalah senyum seorang ratu yang memenangkan permainannya. Takdir memang lucu. Putra Li Wei, satu-satunya pewarisnya, *jatuh cinta* pada selir kesayanganku. Dan seperti pepatah lama yang mengatakan, karma adalah cermin yang memantulkan segala perbuatan. Cinta dan dendam, dua sisi mata uang yang sama, akan terus menari, *SEPANJANG ZAMAN!*
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Dicakar Cendrawasih

Share on Facebook