## Senyum yang Mengantarku ke Penyesalan Sinyal putus-putus. Lagi. Seperti jantungku saat melihat fotonya. Lin, namanya. Di layar ponselku, dia tersenyum. Senyum yang, entah bagaimana, menembus lapisan piksel dan menancap di ulu hatiku. Di dunia yang ***retak*** ini, senyumnya adalah satu-satunya koneksi. Aku, Kai, hidup di masa depan. Masa depan yang lebih mirip sampah digital daripada janji kemajuan. Langit Jakarta berwarna abu-abu permanen, matahari hanya legenda, dan kebahagiaan adalah *glitch* dalam algoritma kehidupan. Aku terobsesi dengan masa lalu, dengan cerita-cerita tentang langit biru dan cinta yang _nyata_. Lin, aku tahu, hidup di masa lalu. Tepatnya, tiga puluh tahun lalu. Aku menemukan profilnya di forum komunitas *online* yang membahas tentang "Anomali Temporal". Gila, aku tahu. Tapi di dunia ini, kegilaan adalah mata uang baru. Kami mulai *chatting*. Sinyal sering hilang, pesan seringkali berhenti di 'sedang mengetik' selama berjam-jam. Tapi setiap kata, setiap _emoticon_ yang berhasil dikirim, terasa seperti bintang jatuh di tengah kegelapan. Aku menceritakan tentang dunia yang kering dan haus, dia menceritakan tentang hujan deras dan konser musik di stadion. "Kau terdengar seperti **malaikat**," tulis Lin suatu malam, pukul 03:00 dini hari. "Malaikat yang datang dari masa depan yang kelam." Aku tertawa. Tawa pahit. "Aku hanya orang biasa, Lin. Orang biasa yang merindukan sesuatu yang hilang." Kami saling jatuh cinta, atau mungkin, saling jatuh dalam ilusi. Cinta yang tumbuh di antara dimensi, cinta yang hanya ada di dunia *maya*, cinta yang dibangun di atas **sinyal yang terputus-putus**. Lalu, suatu hari, Lin menghilang. Profilnya lenyap dari forum. Pesanku tak terkirim. Aku panik. Aku mencari. Aku bertanya. Tidak ada yang tahu siapa Lin. Tidak ada jejaknya. Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah artikel. Artikel tentang sebuah tragedi. Artikel tentang seorang gadis bernama Lin, yang meninggal dalam kecelakaan mobil tiga puluh tahun lalu. Kecelakaan yang terjadi tepat di hari dan jam yang sama dengan saat aku pertama kali menghubunginya. Gambar di artikel itu… adalah gambar Lin. Senyum yang sama. Senyum yang mengantarku pada penyesalan abadi. Aku kemudian menemukan catatan harian Lin. Di halaman terakhir, tertulis: "Aku bisa merasakan seseorang. Seseorang dari jauh. Seseorang yang merindukanku. Aku ingin percaya bahwa dia nyata. Aku ingin percaya bahwa cinta masih ada… bahkan di masa depan yang hancur." *Dan di bawahnya, sebuah coretan kecil, hampir tak terlihat:* ***"KAI…"*** Rahasia ganjil terkuak. Cinta kami bukanlah cinta. Melainkan gema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Kami adalah fragmen memori, terjebak dalam pusaran waktu. Kami adalah bayangan dari apa yang mungkin terjadi, jika saja… _Sinyal menghilang…_
You Might Also Like: 11 Demon Slayer Action Figure Kimetsu

Share on Facebook