Baiklah, inilah kisah pendek bergaya Dracin berjudul "Cinta yang Menetes dari Luka Lama": **Cinta yang Menetes dari Luka Lama** Di balik gemerlap kota Shanghai yang tak pernah tidur, tersembunyi sebuah hati yang remuk redam. Xia Mei, dengan gaun sutra merah anggur yang membalut tubuhnya sempurna, berdiri di balkon apartemen mewahnya. Cahaya rembulan memantulkan kesedihan yang mendalam di matanya yang indah. Di bibirnya, terukir senyum yang menipu, sebuah topeng yang telah lama ia kenakan untuk menyembunyikan luka. Lima tahun lalu, ia memberikan hatinya seutuhnya pada Li Wei. Cinta mereka, bak lukisan indah yang terbingkai dengan janji suci. Namun, lukisan itu dirusak oleh kuas pengkhianatan. Li Wei, dengan ***KEJAM***, memilih wanita lain, meninggalkan Xia Mei dengan hati yang tercabik-cabik. Pelukan Li Wei, dulu adalah ***KEHANGATAN*** yang ia rindukan, kini hanya racun yang membakar jiwanya. Janji-janji manis yang pernah terucap, kini menjelma menjadi belati yang menusuk jantungnya berulang kali. Xia Mei menarik napas dalam-dalam. Ia bukan wanita lemah yang akan meratapi nasib. Ia adalah Phoenix yang bangkit dari abu. Ia belajar menyembunyikan rasa sakit di balik elegansi, di balik tatapan dingin yang menusuk. Ia membangun kerajaannya sendiri, mengukir namanya di dunia bisnis yang keras. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Li Wei, kini sukses dan berkuasa, mencoba merebut kembali hatinya. Ia merayu, ia memohon, ia menjanjikan bulan dan bintang. Namun, Xia Mei hanya tersenyum sinis. "Li Wei," ucapnya dengan suara dingin bagai es, "Kau pikir, aku masih wanita yang sama? Wanita bodoh yang akan memaafkan pengkhianatanmu?" Ia tidak berteriak, ia tidak menangis. Ia hanya meluncurkan rencana yang telah ia susun dengan ***SEMPURNA***. Ia menggunakan kekuatannya, kecerdasannya, dan pesonanya untuk menghancurkan bisnis Li Wei, menghancurkan reputasinya, menghancurkan segalanya yang pernah ia banggakan. Bukan darah yang tumpah, bukan nyawa yang melayang. Yang Xia Mei berikan adalah penyesalan abadi. Melihat Li Wei hancur di hadapannya, ada sedikit rasa puas, namun juga rasa pahit yang menusuk. Ia sadar, balas dendam tidak pernah terasa semanis yang ia bayangkan. Malam itu, Xia Mei kembali berdiri di balkon. Angin malam membawa aroma bunga sakura yang lembut. Ia memejamkan mata, merasakan kehampaan yang mendalam. Ia telah membalas dendam, namun hatinya tetap kosong. **Cinta dan dendam...lahir dari tempat yang sama, bukan?**
You Might Also Like: Seru Sih Ini Pelukan Yang Menyeret Ke

Share on Facebook