Baiklah, inilah kisah modern dracin berjudul 'Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan': **Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan** Layar ponselku berkedip, notifikasi dari Lin. Jantungku berdebar. Bukan karena cinta, tapi karena **_kebiasaan_.** Kami terhubung lewat aplikasi kencan, di antara lautan wajah yang berharap menemukan seseorang. Dia berbeda. Dia mengirimiku puisi. _Hujan kota Seoul membasahi hatiku, seperti air mata yang tak pernah jatuh. Aku melihatmu di antara tetesan, bayangan senyummu yang memudar._ Awalnya, manis. Aku larut dalam kata-katanya, aroma kopi yang kubuat terasa lebih pahit namun menyenangkan. Kami bertemu di kafe kecil dekat Gangnam, saling bertukar cerita, dan tentu saja, puisi. Dia menulis puisi tentangku. Tentang mataku yang katanya menyimpan *galaksi*, tentang tawaku yang seperti *lonceng angin* di musim semi. Aku merasa istimewa. *BODOH*. Namun, ada yang janggal. Setiap puisi terasa seperti kepingan puzzle yang hilang. Setiap bait menyembunyikan sesuatu. Aku mulai curiga. _Cahaya bulan di Sungai Han memantulkan wajahmu yang sendu. Di balik senyum itu, aku melihat rahasia yang kau simpan rapat-rapat. Biarkan aku membukanya, pelan-pelan._ Percakapan kami di LINE menjadi arena pertempuran halus. Aku mencoba menggali informasi, dia menghindar dengan metafora. Sisa chat yang tak terkirim menumpuk di benakku, pertanyaan yang tak pernah kujawab, kecurigaan yang semakin menggunung. Kenangan kami, yang dulu terasa indah, kini terasa seperti _kaca yang berhamburan_. Aku mulai menyelidiki. Profil media sosialnya, teman-temannya, jejak digitalnya. Aku menemukan sesuatu. Sebuah nama. _Choi Ji-woo._ Seorang wanita yang *IDENTIK* denganku. Kecuali… kecuali dia meninggal setahun lalu. *Kecelakaan mobil.* Aku menarik napas. Semua potongan puzzle itu akhirnya membentuk gambaran yang mengerikan. Puisi-puisi itu bukan untukku. Itu untuk Choi Ji-woo. Aku hanyalah pengganti. Aku hanyalah *bayangan* dari cintanya yang hilang. _Aroma kopi yang dulu manis kini terasa pahit. Aku membencimu, karena telah mencuri hatiku dan mengembalikannya dalam keadaan hancur._ Kemarahanku mendidih. Kehilangan itu terasa nyata, walaupun aku tidak pernah memiliki Lin sepenuhnya. Aku merasa **DIJATUHKAN**, direndahkan, dimanfaatkan. Aku menemuinya di kafe kami. Hujan turun deras. Dia memberiku puisi terakhir. _Di balik senyummu yang manis, ada jebakan yang mematikan. Aku terjatuh ke dalamnya, tanpa daya, tanpa harapan._ Aku menatapnya. Senyum palsu terukir di bibirku. Aku mengeluarkan ponselku dan mengetik pesan. Bukan untuknya. Kepada semua teman Choi Ji-woo: *“Aku tahu siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu.”* Kukirim. Kemudian, aku menatap Lin. Senyumku berubah menjadi seringai. “Kau menulis puisi untukku, tapi setiap baitnya adalah jebakan. Sayangnya, jebakan itu justru mengarah padamu.” Aku berdiri, meninggalkan kafe itu. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya… *notifikasi* yang berdering di ponselnya. Mengakhiri segalanya. Dan aku tahu… ...dendam terbaik adalah yang tak pernah diucapkan.
You Might Also Like: 118 Cara Sunscreen Mineral Dengan Aloe

Share on Facebook