Drama Populer: Kau Memeluk Anakmu, Tapi Menangis Karena Cinta Yang Lain
Kau Memeluk Anakmu, Tapi Menangis Karena Cinta yang Lain
Di dunia manusia, Li Mei memeluk erat putranya, Xiao Xing, balita yang tertidur lelap di pangkuannya. Cahaya lentera air yang berkerlap-kerlip di sungai menerangi wajahnya yang berlinang air mata. Air mata itu bukan hanya untuk Xiao Xing, tapi juga untuk kenangan yang menghantuinya. Kenangan akan dunia lain.
Di dunia roh, Li Mei dikenal sebagai Ren Hua, sang Dewi Bunga Bulan. Bulan di sana, Bulan Abadi, mengingat namanya, mengingat setiap mantra yang pernah diucapkannya. Ren Hua memiliki kekuatan untuk memanipulasi tanaman, menyembuhkan luka, dan berkomunikasi dengan roh-roh alam. Namun, hatinya terluka. Ia mencintai Bai Ze, Dewa Angin, tapi Bai Ze terpikat pada keindahan dan kekuatan gelap Nian, sang Ratu Bayangan.
Bayangan di dunia roh punya suara. Mereka berbisik rahasia, menyebarkan gosip, dan kadang-kadang, mencuri ingatan. Bayangan Nian selalu mengikuti Bai Ze, membisikkan kata-kata manis dan janji kekuasaan.
Li Mei tidak ingat bagaimana ia sampai di dunia manusia. Ia hanya tahu, suatu malam, ia terbangun di ranjang reyot di sebuah gubuk kecil, tanpa ingatan tentang kehidupan sebelumnya, kecuali pecahan-pecahan mimpi tentang bunga-bunga abadi dan angin yang berhembus lembut. Lalu, Xiao Xing lahir, dan insting keibuan menguasai dirinya.
Tapi mimpi-mimpi itu kembali. Semakin Xiao Xing tumbuh, semakin kuat pula mimpi-mimpi itu. Ia melihat Ren Hua, menyaksikan cintanya yang pedih, menyaksikan pengkhianatan. Ia melihat dirinya... mati. Ren Hua dibunuh. Bukan oleh Nian, bukan oleh Bai Ze, tapi oleh seseorang yang lebih dekat.
Suatu malam, di bawah cahaya Bulan Abadi (yang terasa begitu jauh, begitu palsu), Li Mei menemukan jawabannya. Xiao Xing adalah kunci. Dia adalah reinkarnasi dari sebagian jiwa Ren Hua yang terpecah saat kematiannya. Kematian Ren Hua bukanlah akhir, tapi awal dari takdir baru, takdir yang dimanipulasi oleh...Bai Ze.
Ya, Bai Ze. Cintanya pada Ren Hua ternyata lebih dalam, lebih gelap dari yang ia kira. Nian hanyalah pion. Bai Ze sengaja membunuh Ren Hua untuk memecah jiwanya, mengirim sebagian ke dunia manusia, agar ia dapat terlahir kembali sebagai Xiao Xing dan selamanya terikat padanya. Ia menginginkan cinta Ren Hua, mengendalikan Ren Hua, dalam setiap kehidupannya.
"Kau mencintai Ren Hua, tapi kau membunuhnya… dan sekarang, kau mencoba mencintai Xiao Xing, anakmu sendiri?" bisik Li Mei, air mata mengalir deras.
Bai Ze, berdiri di hadapannya, dalam wujud seorang pria biasa, hanya tersenyum sedih. "Aku mencintai kekuatanmu, Ren Hua. Aku mencintai keberanianmu, Li Mei. Aku hanya ingin kau selalu bersamaku."
Ia mendekat, mengulurkan tangan.
Sentuhannya akan mengikatnya lagi, mengembalikannya ke dunia roh, ke dalam pelukan palsunya selamanya!
Li Mei memeluk Xiao Xing lebih erat. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia memejamkan mata, dan mengucapkan mantra terakhir, mantra yang membalikkan takdir, mantra yang melepaskan diri dari jeratan cinta yang obsesif.
"Darah Bulan, putuskan rantai Angin Abadi, bebaskan jiwa dari mimpi yang dipaksakan."
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Tanpa Modal Di